This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 11 Agustus 2011

Sepotong Maaf dan Terimakasih untuk Ikhwan


           Jika takdir Allah tertulis bahwa kebersamaan antara aku dan dirimu sampai detik ini, ijinkan aku mengucapakan:
 “selamat ulang tahun, semoga keberkahan Allah selalu menyertaimu. lindunganNya selalu menyertaimu, hingga engkau tidak jatuh pada perbuatan nista yang akhirnya menjelekkan dirimu dan keluargamu”
          Sangat beralasan mengapa aku memanjatkan do’a ini untukmu. Aku tahu bagaimana pergaulanmu, aku, yang menjadi orang di luar lingkaran, yang berada pada posisi yang selalu memberikan penilaian negative terhadap lingkunganmu, sangat tidak ingin pengaruh lingkungan yang negative itu mewarnai pribadimu. Pribadi yang dibesarkan dalam keluarga hangat yang sangat menjunjung kesopanan dalam berbicara dan berinteraksi. Engkau tentu tidak lupa apa pesan yang selalu disampaikan ayahmu. “jangan berkata kotor, jangan mennggambar di pakaian, kulit, dan jangan mewarnai rambut”.
          Namun ternyata takdir Allah menuliskan lain, kita dipisahkanNya + 2 tahun yang lalu. Namun itulah yang semakin membuatku ingin mengucapkannya. Tidak hanya ucapan selamat ulang tahun, tapi juga permintaan maaf terhadap semua yang pernah aku lakukan dan tidak aku penuhi padamu. Masa 19 tahun kebersamaan kita, banyak kesempatan yang sudah aku sia-siakan. Aku tidak pernah bisa menerima dirimu dengan semua “kekurangan” yang engkau miliki. Aku tidak menyadari bahwa memilikimu adalah suatu anugrah terindah yang Allah berikan untukku.
          “maafkan aku, Ikhwan. Maafkan aku untuk fungsi yang tidak pernah aku jalankan dengan sempurna sebagai seorang kakak. Maafkan aku yang selalu menuntutmu menjadi seperti apa yang baik menurutku. Maafkan aku yang tidak pernah bisa melihat sisi terangmu yang sangat luar biasa itu, maafkan aku yang tidak pintar menunjukkan rasa kasih terhadapmu yang akhirnya berujung pada bentuk kebencian yang biasa engkau terima. Semoga engkau tahu bahwa sifat kerasku, ketidaksukaan terhadap gaya yang engkau pilih, dan marah-marah yang seringkali aku timpakan kepadamu itu adalah bentuk kasih sayangku padamu yang aku sendiri tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.  Maafkan aku, beginilah aku dengan segala keterbatasanku, yang tidak bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya terpendam dalam diriku, hingga sikap yang aku tunjukkan dengan tujuan perubahan dirimu kearah lebih baik menurut pandanganku justru semakin membuat kita semakin jauh.”
          “Terimakasih, Ikhwan. Untuk permintaanku yang jarang sekali engkau tolak. Kau tahu betapa bahagianya aku ketika tahu bahwa engkau benar-benar tidak merokok saat aku memintamu sehari saja tidak merokok untuk memperingati hari tanpa tembakau sedunia? Padahala jarak kita jauh saat itu, namun engkau melakukannya untukku. Terimakasih untuk peringatan dan pesan-pesanmu yang tegas yang kau sampaikan secara halus untukku. Ketika aku memaksa untuk ikut dalam permainan sepak bola yang kesemuanya laki-laki, kau melarangku dengan sangat halus, namun ketika aku memaksa untuk ikut, engkau tidak bisa melakukan apa-apa sampai akhirnya aku menyadari sendiri apa yang sudah aku pilih. Ketika aku baru bisa mengendarai motor, pesan-pesanmu menemaniku. Untuk tidak menurunkan gas secara mendadak, tidak grasagrusu ketika berkendara, dan lainnya. Kau sampaikan semua itu dengan sangat halus, kehalusan yang tersembunyi dalam badanmu yang tegap.
          Dan hari ini, ketika umur 21 (seharusnya) engkau miliki, aku ingin mengucapkan itu. Aku berharap Allah menyampaikannya padamu. Sebuah ungkapan yang tidak pernah mampu aku ucapkan ketika nikmat Allah masih melingkupiku. Itu semua karena ketidak beranianku untuk melakukannya, berkali-kali aku merancang bagaimana caranya, namun masih belum mampu. Hingga Allah menyentakku dengan caranya. Dan kini, aku harap Allah menyampaikannya kepadamu. Maukah kau menerimanya?

Senin, 25 Juli 2011

Rihlah ke Kebun Teh


Beberapa bulan yang lalu, anak-anak mutiara berkesampatan melakukan perjalanan ke Malang. tepatnya di kebun teh. sangat menyenangkan, dengan udara yang sejuk cenderung dinging, memberikan suasan yang berbeda dengan keseharian kami di Surabaya. dan ini beberapa gambar yang diambil dari kamera saku dan oleh orang amatiran.
ini lah hamparan pohon teh yang disuguhkan pada kami saat kami sampai di kebun teh. sepanjang kami melihat, hanya warna hijau dari pohon teh lah yang tampak.
pemandangan hijau yang saya suka.
para pemetik teh yang saya foto dari kejauhan. mereka bekerja dari jam 6 pagi sampai jam 2 siang. mengelilingi lahan teh yang luas, dengan beban di pundaknya. ketika hujan, maka beban mereka akan bertambah karena harus menggunakan plastik berlapis-lapis agar tidak basah dan kedinginan.

bunga teh yang berhasil ditemukan. saya kira hanya pohon saja (maklum, tidak pernah ketemu langsung dengan pohon teh sebelumnya).

jika ada bunga, pasti ada buah. maka, ini lah buah teh itu.

Angsa-angsa Danau Kampus C

Gambar pertama yang aku ambil ketika jalan-jalan ke danau depan kantor rektorat.
karena hanya menggunakan kamera saku, maka gambar yang didapat tidak dapat maksimal.
segerombolan angsa.
air yang semakin surut.
posisi pengambilan gambar yang masih dari jarak jauh.

***
Kesendirian

dari posisi dekat yang bisa.
Posisi yang saya suka.

Minggu, 24 Juli 2011

Ketika aku jatuh hati pada sejarah

            Aneh ketika menuliskan judul diatas. Benarkah aku sudah jatuh hati pada sejarah? Kapan tepatnya? Padahal ketika di bangku sekolah dulu, jika ditanya pelajaran apa yang tidak paling aku senangi dan nilai pelajaran apa yang paling buruk, maka aku akan menjawab, “sejarah”. Sejarah bagiku dulu adalah pelajaran tidak penting, hanya mengingat masa lalu yang banyak bohongnya. Aku tidak pernah antusias dengan pelajaran ini. dari mulai SD dengan sejarah kemerdekaan Indonesia mulai dari pra hingga paska kemerdekaan dengan segala intrik-intriknya. MI dengan sirah nabi yang masih belum aku temui keindahannya, SMP dengan kehidupan jaman purba hingga revolusi industry, dan SMA dengan kisah kerajaan-kerajaan yang ada di indonesia. Jika ada bagian materi sejarah yang terlewat, maafkan aku. Karena memang itu yang aku ingat. Jika SD aku ingat kemerdekaan, karena baru kelas 6 dengan G 30 S-PKI itulah yang membuatku ingat. Ketika SMP, materi sejarah kelas 1 dan kelas 2 yang aku ingat karena aku ingat gurunya. Ketika kelas 1 SMP guru sejarahku identik dengan tidur di kelas saat menunggu kami mengerjakan tugas, dan kelas 2 SMP karena guru yang mengajar cantik dan cara mengajarnya enak. SMA, karena aku pernah berdiskusi makanya aku ingat. Selebihnya, jika tidak tertidur maka aku sedang berbicara dengan teman membahas tema yang lain.
            Namun sekarang pandanganku tentang sejarah berbeda. Apa yang terjadi sekarang, tidak terlepas dari sejarah masa lalu yang sudah dilakukan oleh orang dahulu. Bagiku, mengetahui apakah suatu hal istimewa atau tidak, bisa dengan sejarah. Mencintai dan membenci dapat kita putuskan dengan sejarah. Dan seorang pintar atau tidak, bisa kita tilik juga dari sejarah. “jika ingin bijak, pelajari sejarah” begitu ungkapan yang pernah aku dengar. Dan suatu ungkapan yang unik namun aku benarkan adalah bahwa sejarah adalah ilmu pasti.
            Lalu, apa yang membuatku jatuh hati pada sejarah?
1.      Dari sejarah kita bisa menjadi lebih baik
“pengalaman adalah guru yang terbaik” begitu ungkapan terkenal yang sering kita dengar. Namun saya mendapati ungkapan lain “pengalaman orang adalah guru yang terbaik”. Saya membenarkan pendapat ini, karena kita bisa berkaca pada orang lain tentang hal yang tidak harus kita lakukan agar tidak menjumpai kegagalan. Dan itu adalah sejarah. Mengetahui dan menganalisa apa yang sudah terjadi di masa lalu, agar kita bisa lebih baik dari pendahulu kita.
2.      Dari sejarah kita bisa belajar keteladanan
“jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Begitu bung karno berpesan. Karena bagitu banyak kisah orang hebat yang bisa kita ambil keteladannya. Kita membaca sirah nabi, sahabat, sahabiyah atau biografi tokoh adalah untuk kita bisa mengambil semangat keteladan yang mereka miliki.
3.      Sesungguhnya hal “baru” itu suatu kemunduran
Tato, hair extension (menyambung rambut),pakaian yang serba mini, hubungan sejenis, adalah hal-hal yang dianggap suatu kemodernan oleh masyarakat sekarang. Karena itu datangnya dari barat. Padahal, jika kita menilik sejarah sesungguhnya hal-hal itu sudah dilakukan oleh orang jaman dahulu, bahkan sebelum islam ada. Hubungan cinta sejenis sudah terjadi puluhan ribu tahun yang lalu ketika nabi luth di utus Allah ke bumi.dan itu merupakan penyimpangan terbesar umat manusia yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Tato, menyambung rambut, itu adalah suatu hal yang sudah ada sebelum nabi Muhammad di utus dan kemudian dihapuskan. Apalagi dengan pakaian serba mini. Jika kita mengingat sejarah kelas 1 SMP dengan tahapan manusia dari yang paling purba hingga homo sapiens yang paling modern. Seiring perkembangan akal pikiran manusia purba, maka juga pakaian manusia pruba juga berkembang. Dari hanya menutupi bagian bawah saja, berlanjut menutupi bagian atas bagi wanita dan akhirnya ditemukanlah pakaian untuk menutup tubuh secara sempurna. Ketika apa yang sebenarnya sudah ada dari jaman dahulu dan sudah dihapuskan kemudian diadakan lagi sekarang, bukankah itu suatu kemunduran?
4.      Islam adalah agama paling manusiawi
Orang yang belajar sejarah yang benar dan secara benar tidak akan mengatakan bahwa islam adalah agama yang tidak manusiawi. Hukuman pancung, poligami, “pengekangan wanita”, dan lain sebagainya. Jika mereka benar-benar melihat sejarah bangsa-bangsa di dunia, maka hukum mana yang paling manusiawi? Bahkan terhadap orang gila sekalipun. Agama mana yang paling mengormati wanita? Padahal ketika sebelum islam turun wanita diperlakukan ibarat barang yang dapat diwariskan.

Beberapa hal itulah yang kemudian membuatku mencintai sejarah. Kegemaranku akan menulis juga adalah bagian dari sejarah. Tidak ada sejarah tanpa tulisan. Maka, jika dulu aku membenci sejarah, kini aku mencintainya. Kini aku jatuh hati pada sejarah.

Rabu, 27 April 2011

Memori Tentang Seorang Ikhwan

Ikhwan, ikhwan setiawan nama lengkapnya. Sebuah nama yang sangat mencerminkan kepribadiannya. Dia sangat setia kawan. Tidak jarang dia mengorbankan apa yang dia miliki untuk kawan-kawannya. Jika dia sendiri tidak memiliki apa yang dibutuhkan kawan-kawannya, maka dia akan berusaha untuk mencari pertolongan kepada orang lain. Entah orang tuanya atau kawannya yang lain yang lebih mampu. Dia tidak akan membiarkan kawannya bingung sendiri.
Umurnya baru 19 tahun ketika dia dipanggil Rabb nya untuk kembali. Banyak yang kaget dengan kejadian ini. Tidak sedikit pula yang heran bahwa pemuda dengan badan tegap itu telah pergi. Hanya satu pekan dia tidak keluar rumah, dan itu sudah merupakan hal sangat luar bisa bagi orang-orang yang sering berinteraksi dengannya. Dari tempat kerjanya, dia ijin sakit. Ya, sakit kepala yang tak terikira lah yang membuatnya harus tidak masuk kerja. Dan itu pulalah penyebab dia akhirnya menghembuskan nafas terahir. Sakit kepala yang tidak diketahui sebab nya karena tidak pernah diperiksakan.
Dalam umurnya yang masih tergolong muda, dia telah memberikan banyak hal yang bisa diambil sebagai pelajaran. Termasuk juga aku. Dari dirinya aku bisa belajar tentang banyak hal yang tidak aku dapatkan diproses pendidikanku melalui jalur formal.
a.       Darinya aku tahu arti kecerdasan social
Dalam dunia pendidikan, kecerdasan digolongkan dalam beberapa hal. Ada kecerdasan matematis, kecerdasan linguistic, dan kecerdasan social. Tapi seringkali yang mendapat porsi lebih dan dianggap cerdas jika seorang anak memiliki kecerdasan matematis lebih dari yang lain. Cerdas jika nilai matematika atau nilai pelajaran eksak yang lain mendapatkan nilai tinggi. Sedangkan jika seorang anak mendapatkan nilai jelek dalam mata pelajaran tersebut, dikatakan bodoh walaupun pergaulannya sangat luas dan hubungan dengan orang lain tergolong baik. Hal ini jarang sekali diakui, bahkan oleh orang tua dari anak sendiri. Anak yang mendapatkan nilai jelek di sekolah dan terlihat nakal langsung di cap nakal.
Begitu juga dengan diriku. aku sempat menilai dia tidak pintar hanya karena nilainya tidak pernah bagus, cenderung selalu ada dalam batas minimal. Lebih-lebih, malasnya dia belajar untuk matapelajaran yang dia tidak unggul disana. Tapi, ketika melihat lebih jauh lagi, aku tahu dia memiliki kelebihan lain, tidak dikemampuan matematis atau ilmu eksak yang lain. Keunggulannya adalah dibidang social dan olahraga. Dia akan betah berlama-lama membaca buku sejarah dibandingkan harus menghadapai lima soal matematika. Berbeda dengan diriku yang (dulu) alergi dengan sejarah. Nilai olahraganya bagus, jabatan sebagai komandan pasukan gerak jalan mulai dari SD sampai SMA selalu dia dapatkan. Suatu hal yang tidak pernah aku miliki padahal aku sangat mengidamkannya walaupun hanya sebagai pasukan.
Tapi yang terpenting dari semua itu adalah kecerdasan sosialnya yang diatas rata-rata. Jika ada tes untuk kecerdsan social sama seperti adanya tes IQ, aku pikir dia akan mendapatkan nilai excellent. Bagaimana tidak, seperti yang aku paparkan di atas, dia tidak pernah bisa menolak permintaan tolong  kawan-kawannya. Pernah suatu ketika dia minta sepeda onthel, tujuan awalnya agar dia lebih mudah kesekolah dan main ke desa sebelah. Lama-kelamaan, dia bosan. Padahal sepeda yang awalnya masih original sudah dia ganti beberapa kali disana sini. Mulai dari ban, setir, sampai cat. Tapi karena sifat bosan itu, akhirnya sepeda itu hanya teronggok di rumah. Sampai beberapa waktu dia menemui ayahnya. “Ramah, adik dari temanku minta sepeda, sedangkan orangtuanya tidak punya uang untuk membelikan sepeda. Boleh aku berikan sepeda itu untuk dia?” begitulah dia melakukannya. Dia sadar apa yang akan dia berikan untuk temannya bukanlah miliknya. Itulah salah satu kejadian yang membuatku takjub padanya. Meskipun awalnya jujur aku akui, aku merasa tindakan itu adalah bodoh. Sepeda itu masih bisa dia pakai sendiri atau dijual tapi dia tidak melakukannya.
Dengan seperti itu, siapa yang akan memberikan nilai terhadap kecerdasan sosial yang dia miliki? Bahkan sampai saat inipun hal itu masih sulit aku wujudkan.
b.      Darinya aku belajar pengorbanan
Dia seperti bank atau gudang yang penuh logistic bagi kawan-kawannya. Permasalahan apapun yang kawan-kawannya hadapi, hampir semua bisa dia bantu. Mulai dari kawannya yang kehabisan bensin ketika ke kota. Karena rumahnya dekat dengan kota dan seringkali dilalui oleh kawannya, jadilah dia tujuan. Lalu apa yang dia lakukan, dia sedotkan bensin dari sepeda motornya sejumlah yang dibutuhkan temannya untuk mencapai kota dan balik sampai dirumah. Saat itu dia memang baru saja mengisi motornya.
Beda lagi ketika disuatu siang yang terik, saat dia baru pulang sekolah seorang kawan yang lain datang ke rumahnya dengan kondisi bagian depan motor rusak. Sang kawan cerita bahwa dia tadi mengalami kecelakaan dengan orang. Dan kawannya tidak berani pulang dalam keadaan motor yang tidak lagi bagus. Apa yang ikhwan lakukan? Dia menemani kawannya kebengkel terdekat untuk memperbaiki dengan uang yang dia dapat setelah melakukan pendekatan pada ibunya. Dia selalu ada ketika kawannya butuh bantuannya. Dari sanalah aku belajar arti sebuah pengorbanan saat kesempitan, saat kita sendiri butuh untuk dibantu. Yang (lagi) diri ini masih sulit untuk melakukannya.
c.       Darinya aku melihat praktik bertetangga sesungguhnya
Kemanapun dia pergi, selalu ada yang menyapa. Baik hanya dengan menganggukkan kepala, sampai memanggil nama. Padahal ketika ditanya siapa yang tadi menyapanya, tidak semua dia tahu siapa mereka. Lalu kenapa hal itu terjadi? Karena setiap kali dia melewati daerah padat penduduk, dia akan menganggukkan kepala yang berarti dia mohon ijin untuk lewat. Meskipun dua kali dia pindah rumah, dia bisa mengenal dengan cepat siapa tentangganya yang baru. Tidak hanya tetangga kiri kanan depan belakang, tapi tetangga yang rumahnya beberapa meter dari tempat dia tinggal dia mengenalnya. Ketika tetangganya butuh bantuan? Dialah yang akan menjadi wakil dari keluarganya.

Selain tiga hal itu, masih banyak hal lain yang bisa aku pelajari darinya. Bagaimana bersikap, berbicara aku pelajari darinya. Dalam waktu 19 tahun dia banyak meninggalkan kenangan yang sangat berharga. Tidak hanya bagiku, tapi bagi kawan-kawannya.
Ketika kabar duka itu datang, banyak telpon menyakan kabarnya. Ya, banyak dari kawan-kawannya yang belum tahu bahwa dia telah dipanggilNya. Bahkan dihari keenam, masih ada yang menanyakan kabarnya. Ada yang menelpon karena rindu sudah lama tidak bertemu, ada yang karena semalam memimpikannya, ada yang memang hanya ingin bertanya kabar. Dan yang mebuatku takjub adalah kawan-kawan yang menelponnya adalah orang yang tidak kenal baik. Dalam artian kawannya itu tidak tahu ikhwan anak mana, rumahnya di mana. Yang mereka tahu hanya dia bernama ikhwan, itu saja. Mereka bukanlah orang-orang yang satu kampung dengannya. Ada yang bahkan jaraknya jauh yang ibunya pun heran, dari mana mereka mengenal putranya?
Ya, begitulah sekelumit kisah yang bisa aku ceritakan tentang seorang ikhwan yang aku kenal. Meskipun kebersamaan kami 19 tahun, tapi aku baru merasa benar-benar bersama dirinya hanya satu bulan sebelum akhirnya dia dipanggilNya.

Minggu, 03 April 2011

Tentang Gedung Mewah DPR


                Sebuah dagelan kembali disuguhkan petinggi negeri ini. setelah ungkapan presiden tentang gajinya yang tujuh tahun terakhir tidak naik-naik, kini hal yang hampir mirip kembali disuguhkan oleh para petinggi. Bukan lagi dari eksekutif, tapi dari legislatif yang notabene adalah wakil rakyat dipemerintahan. Ya, mereka tidak hanya sekedar mengungkapkan keinginan, tapi sudah terbentuk rencana yang 80% akan terealisai. Apa itu? Tidak lain dan tidak bukan tentang gedung baru anggota lesgislatif yang akan dibangun dengan anggaran 1,116 T. yang harga tiap ruangannya + 500 juta.
                Pertama kali aku mendengar kabar ini, aku teringat dengan lagu band kesukaanku “Sheila on 7” yang berjudul “generasi patah hati”
tawa lepasmu adalah tangisanku
kelakuanmu adalah deritaku
perut buncitmu kurusnya bayi mereka
rumah mewahmu keringat mereka
kebodohan ini harus segera di akhiri
sebelum aku benar-benar mati
aku generasi yang patah hati
terlahir dengan kondisi dunia yang seperti ini
aku harus belajar tersenyum sebelum membunuh
sebelum membunuh rasa takutku
                Apa yang sudah mereka wacanakan, sungguh keterlaluan. Saya akui, ini dari perspektif saya. Bagaimana tidak, ditengah kondisi negeri yang seperti ini, mereka masih sempat memikirkan pembangunan gedung yang begitu mewah dengan anggaran yang fantastis. Yang semakin membuat saya heran adalah komentar dari ketua DPR yang mengatakan bahwa biaya gedung itu murah.
                apa yang ada dalam pikiran mereka ketika merencanakan itu? Tidak kah mereka melihat, mendengar, dan merasakan apa yang sekarang terjadi dengan negeri ini? kemana mata, telinga, dan hati mereka? Sudah tertutupkah? Tidak kah mereka membaca Koran, menonton TV bahwa ada lima kecamatan yang sudah beberapa hari ini warganya tidak dapat hidup dengan tenang karena serangan hama ulat bulu? Tidak kah mereka mendapat laporan bahwa jalan di daerah bantul putus karena terjangan lahar dingin sehingga mengharuskan bus dan sopir truck melalui jalan memutar yang akan menambah biaya operasional? Tidak kah mereka merasakan bagaimana rasanya hidup di pengungsian karena rumah kebanjiran akibat hujan yang terus menerus? Anak-anak tidak sekolah karena SD yang terendam banjir? Kemana anugrah Allah yang sudah diberikan kepada mereka untuk bisa mengetahui itu semua? Sekedar simpati saja tidak ada.
                Negeriku memang aneh. Para petingginya tidak peka. Negara-negara eropa dengan kondisi iklim dan perekonomian dunia yang sedang tidak stabil seperti ini mereka semakin menghemat pengeluaran, justru di negeriku sedang gencar-gencarnya untuk menghabiskan anggaran. Padahal, ancaman kenaikan minyak sudah didepan mata, kerusakan jalan dimana-mana, ketersediaan pangan masih belum bisa dipastikan, daerah-daerah masih mengadapi ancaman banjir, masyarakat di kepualaun masih harap-harap cemas apakah besok akan ada pasokan sembako atau tidak karena terkadang kiriman itu terhambat cuaca. Benar sebuah ungkapan yang mengatakan, “jika pemimpin suatu negeri kaya, maka rakyatnya miskin. Jika pemimpin suatu negeri miskin, maka rakyatnya kaya”
Dana 1,116 T tidak bisa kah di alokasikan untuk keperluan lain? Perbaikan jalan misalnya. Banyaknya jalan yang rusak menghambat pengiriman barang kedaerah dan hal itu juga yang menyebabkan tingginya biaya transportasi yang akhirnya harga di konsumen meninggi, ujung-ujungnya rakyatlah yang menanggungnya. Mahalnya harga kebutuhan pokok tidak lantas membuat kaya petani, karena ditangan mereka hargapun masih biasa. Lalu siapa yang kaya? Para pengusaha dan pemilik modal. Pemerintah yang senantiasa mengambil pajak tanpa perbaikan insfrastruktur. Merekalah yang kaya.
perut buncitmu kurusnya bayi mereka
rumah mewahmu keringat mereka
                rakyat Indonesia seringkali dibuat patah hati oleh kebijakan dan pembahasan para petinggi. Apa yang mereka hasilkan dan akhirnya tersampaikan ke public bukan hal-hal yang menyangkut rakyat banyak. Hanya bagi mereka sendiri. Termasuk “engkel-engkelan” pembangunan gedung baru. Padahal sederetan rancangan undang-undang yang menyangkut hajat hidup orang banyak masih menunggu untuk segera diselesaikan.
                Terserah alasan apapun dibalik pemabangunan gedung mewah itu. Itu belum selayaknya dilakukan, apalagi dengan anggaran sebanyak itu. Tunjukkan kinerja kalian. Barulah berbicara fasilitas. “kami akan lebih giat kalau ada gedung baru” katanya. Iya kah? Tidak cukupkah tunjangan yang sudah diberikan pada kalian dari hasil keringat-keringat rakyat yang kalian wakili? Kalian tentu pernah belajar sejarah kan? Bahwa bumi ini pernah diperintah oleh sorang pemimpin yang kehidupannya sangat sederhana tapi berhasil membawa rakyatnya mencapai kemakmuran. Negara yang dipimpinnya tidak lah kecil. Dan juga tidak miskin. 1/3 bumi wahai anggota dewan yang terhormat. Tapi pemimpin itu memilih hidup di bilik sederhana. Tidak di istana yang mewah.
                Berapa tahun sudah kalian menjabat? Hampir 2 tahun. Dan saya sebagai rakyat belum merasakan perwakilan kalian. Seperti itu sudah minta fasilitas lebih. Padahal seorang umar bin abdul aziz dalam waktu dua tahun sudah berhasil mengentaskan kemiskinan di negeri yang dipimpinnya, 1/3 bumi. Jauh lebih luas jika dibandingkan dengan Indonesia. Bukankah sejarah adalah guru yang terbaik? “Jangan sekali-kali melupakan sejarah” itu pesan proklamator negeri ini. lalu bagaimana dengan kalian?