This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label aktivitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aktivitas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Juni 2015

Kesyukuranku #1: Ketika Diri Telah Mampu Menerima Dengan Sepenuh Hati

            Perawat. Profesi yang –walau tak sepenuhnya asing- namun tidak juga familiar denganku. Keluarga besar yang rata-rata pegawai PEMDA, dan bapak yang seorang guru SD, otomatis dunia masa kecil dan remajaku habis bersama dengan profesi itu. Perawat, hanya aku kenal ketika aku atau saudaraku sakit selama tiga hari tak kunjung sembuh, Rama dan Ibuk akan membawa kami ke puskesmas pembantu yang –Alhamdulillah- dekat dengan rumah untuk kami mendapatkan obat. Puskesmas yang dilayani oleh dua orang tenaga kesehatan, yang dulu aku kira satu dari mereka adalah dokter, baru-baru ini saja aku tahu bahwa tidak pernah ada dokter jaga di puskemas pembantu dekat rumahku –rumah dinas SD lebih tepatnya-.
            Perawat. Pilihan studi yang ditawarkan salah satu guru BP ketika kami dalam suatu waktu berjalan bersama menuju sekolah.
            “jika tidak jijik dengan hal-hal kotor, kenapa tidak masuk keperawatan saja?” tawar beliau. Tawaran itu aku hanya jawab dengan senyuman, sambil menjawab “akan saya pertimbangkan nanti, bu. Terimakasih sarannya”.
            Aku yang belum mengetahui passion ku apa, aku yang masih gamang dengan pilihan dan rasa nyaman yang aku hadapi ketika belajar biologi, dengan idealisme yang aku bangun dari kecil, impian untuk menjadi cahaya bagi sekitar. Aku meyakini, dengan mengambil studi pertanian, impian ini bisa terwujud. Menyediakan makanan sehat untuk masyarakat Indonesia.
            Namun impian itu sulit terwujud, sekolah yang letaknya jauh dari asalku, dan biaya yang mahal untuk menempuh studinya, membuatku urung menekuni dunia pertanian. Biologi murni menjadi pelarianku akhirnya, walau tak sepenuh hati aku barengi pilihan itu dengan jurusan keperawatan di PT lain. Dan alasan mengapa dua PT itu yang aku pilih adalah karena biaya yang cukup terjangkau untuk penghasilan Rama yang seorang PN Guru SD.
            Singkat cerita, aku memilih keperawatan sebagai studi lanjutan setelah lulus SMA. Tak sepenuh hati, namun penuh dengan gengsi. Gengsi sebagai salah satu peserta OSN saat SMA, diterima di dua PT ternama lewat jalur khusus dengan biaya yang murah, tapi dihadapkan pada pilihan untuk tak memilih dua-dua nya.
            Dengan ijin setengah hati dari Rama, dan kebahagiaan seorang ibuk karena melihat kebahagiaan putrinya, akhirnya aku resmi sebagai mahasiswa keperawata Universitas Airlangga, Surabaya. Salah satu PTN terbaik di Indonesia. Bersyukur, tentu saja. Siapa yang tak bangga menjadi bagian dari PTN keren satu ini. Keren dan termurah se Indonesia Raya.
            Namun, dunia kampus yang berbeda dengan dunia SMA membuatku mengalami culture shock. Hal ini sebenarnya sudah aku antisipasi, kembali teori tak sama dengan kenyataan. Culture shock  ini gagal aku atasi dalam waktu cepat. Jadilah aku tak menemukan diriku seperti saat SMA. Jiwa belajar yang tinggi, jiwa kompetisi yang tak pernah mati, hilang entah kemana. Aku jalani masa kuliahku layaknya air. Kubiarkan mengalir, asal masih dalam batas aman. Aku alihkan aktifitasku pada organisasi untuk tetap bisa menguatkan dan mengembalikan niat awal ku memilih jurusan ini.
            Syukur kembali aku ucap ketika masa yang bagi sebagai mahasiswa tidak menyenangkan, tapi aku justru menemukan nyawaku disini. Praktik di Rumah sakit. Bertemu dengan pasien, memberikan pelayanan pada mereka. Semangat hidupku untuk mendalami ilmu yang aku pilih dengan setengah hati –awalnya- kembali muncul. Semangat untuk memberikan yang terbaik untuk mereka. Membuat mereka kembali seperti keadaan semula. Menjadi cahaya bagi mereka yang kebanyak putus asa ketika sakit mendera.
            Dan masa profesi satu itu, membuatku mantap, akan apa yang akan aku tekuni dimasa mendatang. Perawat pelaksana. Baik di Puskesmas atau di rumah sakit. Bertemu dengan orang-orang sakit, memberikan pelayanan pada mereka, memberikan edukasi agar mereka lebih paham setelah mereka sembuh dari sakit yang diderita. Dan semua itu membuatku kembali merasa berharga.
            Dan kini, setelah beberapa waktu gagal mengabdi, kesempatan itu hadir. Mendedikasikan diriku untuk mereka di RSUD dimana aku berasal. Bertemu mereka, dunia yang dulu aku pilih dengan setengah hati, kini aku ingin menjalaninya dengan sepenuh hati. Ucapan terimakasih dari mereka dan mengantarkan mereka pulang dalam kondisi sehat adalah obat lelah paling mujarab bagi kelelahan setelah seharian melayani pasien yang seringkali over load.
            Banyak hikmah, kisah, baik yang lucu, sedih, menggembirakan, bahkan yang membuat hati miris karena fakta yang jauh berbeda dari apa yang aku dapat dia bangku kuliah adalah ilmu yang sangat berharga yang aku dapat di tempatku mengabdi. Dan aku memilih jalan ini untuk meraih ridho Nya, mencapai syurga Nya, dan sebagai amal jariahku. Dengan ilmu yang aku miliki. Menjadi cahaya bagi mereka. Terimakasih pada Ya Allah, untuk kesempatan ini. Alhamdulillah.


Senin, 06 Januari 2014

Tempat Membaca yang Asyik

            Di mana sebaiknya kita membaca buku? Oh, pertanyaan ini lebih baik jika diganti dengan “dimana kita nyaman membaca buku?” karena nyaman menurut kita belum tentu baik, namun kita enjoy melakukannya.
            Dari beberapa tempat yang pernah saya gunakan membaca buku, ternyata saya lebih menyukai tempat yang ramai daripada tempat yang sunyi senyap. Kenapa?sederhana saja sebenarnya. Tempat yang sunyi senyap membuat saya mudah mengantuk, tapi sebenarnya hal ini tergantung dari buku yang dibaca juga sich, jika buku yang dibaca membosankan, di manapun cenderung mengantuk J.
            Lalu, tempat-tempat itu di mana saja? Saya sebutkan dari yang lazim hingga yang – mungkin – aneh bagi sebagian orang. berikut tempat-tempat yang saya pernah pergunakan membaca buku.
1.     Perpustakaan
Waktu SMP SMA, tempat ini adalah favorit untuk membaca. Batasan jumlah buku yang harus di pinjam, adalah salah satu alasan menggunakan tempat ini untuk membaca buku yang diincar. Rata-rata memang buku pelajaran yang besar dan berat yang dibaca di sini, saat ada tugas tentunya. Sehingga tidak repot-repot untuk membawanya keluar dari perpus.
Pergi ke perpustakaan saat jam istirahat dapat menghemat uang saku, dan selain itu bisa mensurvei buku apa yang paling banyak di baca oleh para siswa.
Suvei, untuk apa? Bukan untuk apa-apa sebenernya, hanya untuk menambah jenis bacaan saja. Misal saat SMP yang selalu saya pinjam adalah serial lima sekawan, nah pas lihat ada adik kelas baca lupus sambil senyum-senyum dan cekikikan sendiri, saya penasaran. Akhirnya saya pinjam Lupus, eh.... ternyata saya ketagihan. J
Tapi akhir-akhir ini saya sering mengantuk kalo baca di perpus. Padahal tempatnya enak banget. Ber AC, kursinya nyaman. Atau mungkin karena buku yang dibaca? Entah...
2.    Kamar
Baca buku sambil rebahan di tempat tidur, adalah posisi membaca yang tidak di sarankan. Tapi, cara ini nyaman banget. Apa lagi jika hanya membaca buku fiksi yang ringan. Posisi ini adalah posisi enak untuk dipilih. Asal, siap saja dengan minus mata yang akan terjadi atau mungkin saja bertambah.
Tentu saja, membaca di kamar adalah dengan duduk tegak di meja belajar yang tersedia (kalau saya kadang sambil mendengarkan musik). Posisi badan tidak salah, mata juga tidak terancam kekurangan kelenturan ototnya. J
3.    Taman
Membaca dengan ditemani semilir angin sejuk, dengan wangi daun dan bunga, ehmmm sungguh senangnya. Ya, jika taman dekat tempat tinggalmu menyediakan fasilitas yang mendukung untuk kamu betah berlama-lama duduk disitu dengan membawa buku kesukaan, sungguh menyenangkan. Refreshing dengan dua kegiatan sekaligus. Membaca dan menghirup udara segar. Apalagi yang hidup di kota besar seperti surabaya dan jakarta, tentu hal ini akan sangat menyenangkan. Dari pada setiap hari terpapar ruangan ber AC terus, mending keluar menghirup udara segar.
4.    Kafe
Punya uang lebih, atau ada club buku yang tengah diikuti, biasanya menggunakan tempat ini untuk menikmati buku. Saya sendiri jarang sekali menggunakan tempat yang satu ini. sederhana saja alasannya, karena harus mengeluarkan uang lebih untuk menikmati tempat yang nyaman ini. eh, tapi sekarang banyak kafe yang juga punya perpustakaan. Jadi semakin memanjakan para pecinta buku. Silahkan di coba bagi yang mampu (yang sekarang masih ada kelasnya tinggi). Suatu saat juga ingin punya kafe yang juga menyediakan buku-buku bacaan. Mohon do’a nya J
5.    Foodcourt mall
Ramai, ruwet, tapi ini asyiknya. Ketika kita sudah konsen dengan buku yang kita baca, kita seperti “ditengah keramaian aku merasa sepi” J yap, entah. Beberapa kali saya melakukan ini. dan asyik banget. Ga terasa buku yang dibaca sudah halaman seratus. Jika haus atau lapar, tinggal pesan saja. Jika tidak ada budget, ga akan diusir kok. So, kita bisa selama yang kita pingin. Ga kayak di kafe yang harus memesan menu yang ada. Silahkan dicoba.
6.    Pantai
Membaca buku ditemani deburan ombak dan semilir angin pantai, betapa mengasyikkan. Khayalan kita juga akan melayang dan mungkin akan menemukan ide baru untuk ditulis. Sambil menyelam minum air J
7.    Kapal feri
Tempat ini dipakai karena saya yang perantau. Dari pada bengong selama 30 menit untuk menyebrang, mending digunakan untuk membaca. Walaupun ramai, itu ga akan ngaruh
8.    Mobil
Ga pusing? Kalo lagi jalan nya rata, tidak akan. Saya sering melakukan ini. perjalanan Pamekasan surabaya, 1 jam pertama biasanya saya pakai untuk membaca.
9.    Motor
Emang bisa? Saking ngebetnya sama satu buku, saya pernah nekat baca buku itu di motor. Terutama saat lampu merah. Lumayankan waktu 90 detik digunakan untuk baca. Apalagi jika perjalanan cukup jauh, lampu merah di surabaya kan cukup banyak. Dapat satu bab lho.... J


Nah, selamat berekplorasi dengan tempat-tempat yang menurut kamu menyenangkan untuk menghabiskan buku yang tengah kamu baca. Walaupun masih sulit bagi saya untuk meninggalkan membaca sambil tiduran, ini benar-benar tidak baik. Jangan ditiru.

Minggu, 22 Desember 2013

Menunjukkan Rasa Cinta pada Buku

         
Sejak kecil, saya sudah diajarkan gemar membaca. Buku, koran, majalah, pun banner yang terpampang di jalan-jalan tidak luput untuk saya baca. Hingga kini, setiap bulan selalu saja ada yang ingin diselesaikan untuk dibaca. Ketika jaman SD dulu, akrab dengan buku-buku yang tersedia di perpustakaan sekolah yang tidak seberapa banyak, menginjak SMP, karya Enid Blyton, R.L Stine, dan Boim Lebon dengan Lupus nya menjadi teman di akhir pekan. Saat SMA, saya baru berkenalan dengan karya penulis dari FLP dengan penerbit MIZAN.
          Selama itu, tidak satupun buku yang saya punya, kecuali tentu saja buku paket pelajaran yang setiap awal semester selalu saya miliki. Dengan buku-buku paket itu, saya sudah bertekad untuk tetap menjaga dalam kondisi baik, pengalaman kehujanan hingga merusak buku tidak ingin saya alami lagi. Maka jadilah tiap mendapatkan buku baru, saya selalu menyampulnya terlebih dahulu. Jaman SMA dulu, saya masih belum berkenalan dengan sampul plastik mika kecuali sampul plastik tipis yang biasa digunakan untuk buku tulis, maka buku paket saya lapisi dengan plester bening besar di seluruh bagiannya. Dan hal ini cukup efektif menjaga buku paket tetap baik selama satu semester bahkan masih layak untuk dipinjamkan ke adik kelas.
         
Sekarang, ketika sudah bisa memiliki buku sendiri, kecintaan terhadap buku lebih leluasa untuk diekspresikan. Bagi saya, mencintai buku tidak hanya dengan membaca apa yang tertulis, namun ada beberapa hal lain yang harus dilakukan oleh seorang yang mencintai buku.



1.     Membeli produk asli
Lapak Buku Bekas dan Bajakan
Di indonesia, apa produk yang tidak ada barang bajakannya? Pun dengan buku, kita bisa menemukan produk bajakan ini dengan mudah, terlebih jika buku tersebut memiliki label “Best Seller”, tentu kita bisa mendapatkannya dengan harga yang jauh dari harga aslinya.
Tapi bagi saya, membaca buku bajakan mengurangi keasyikan dan keberkahan dalam mengambil apa yang ada dalam buku. Namanya bajakan, tentu saja kualitasnya jauh di bawah buku asli, mudah lepas, kertas tidak bagus, dan halaman yang bisa saja tidak lengkap. Entah, untuk saya pribadi, membaca buku bajakan membuat saya tidak paham dengan apa yang disampaikan buku. Jika tidak ingin membeli, saya lebih memilih meminjam buku yang saya ingin baca daripada membeli buku bajakan.
2.    Menyampulnya
Setelah buku yang diinginkan terbeli, hal pertama yang biasa saya lakukan adalah menyampulnya. Sejak tinggal di Surabaya, saya sudah mengenal yang namanya sampul plastik. Jadi, awal membeli buku juga sekalian membeli sampul plastiknya.
Saya sering gregetan dengan teman-teman yang membiarkan bukunya tidak tersampul. Tidak masalah jika buku itu dalam format hardcover, tapi yang bersampul softcover sunggu disayangkan jika tidak dalam kondisi tersampul, apalagi buku itu berpotensi untuk dipinjam banyak orang.
3.    Menyediakan pembatas
Pembatas buku biasa
Menggaris bawahi atau memberi catatan pada halaman buku tidak masalah bagi saya, karena hal itu akan mempermudah untuk mencari ulang kalimat ketika ingin meresensinya. Tapi, yang tidak bisa saya tolelir adalah jika halaman buku dilipat. Bukan apa-apa, melipat halaman buku bisa merusak buku. Jika ingin menandai halaman yang kita baca, alangkah lebih baiknya jika menggunakan pembatas buku. Sekarang buku-buku banyak yang disertai dengan pembatas buku, kadang pembatas bukunya juga unik.
Namun jika tidak ada pembatas buku dari penerbit, kita bisa menyiasati sendiri. Menggunakan pembatas buku yang dijual di toko-toko buku, baik yang biasa atau yang magnetik. Atau hanya dengan menggunakan kertas bekas, yang penting buku kita memiliki pembatas dan tidak terlipat.
Pembatas Buku Magnetik
Terkait pembatas buku, pengalaman yang sering terjadi adalah pembatas buku sering hilang karena terjatuh saat membaca buku di tempat-tempat umum. Nah,untuk menghindari ini bisa menggunakan pembatas buku magnetik yang bisa kita lekatkan pada halaman lain saat kita sedang membaca buku.
4.    Meresensi
Meresensi atau memberikan ulasan pada buku, adalah salah satu wujud kecintaan pada buku. Memberikan kesan dan masukan terhadap buku yang kita baca, akan membantu secara tidak langsung mempromosikan buku tersebut. Mengajak orang lain untuk juga ikut membaca buku yang sedang kita baca. Selain itu, membantu kita dalam mengikat ilmu yang kita dapatkan dari apa yang kita baca.


5.    Memberi identitas
Dan yang tidak boleh tertinggal adalah memberikan identitas pada buku yang kita punyai. Hal ini akan mudah ketika buku kita dipinjam. Sayangkan jika buku kita dipinjam lalu tidak kembali? Identitas bisa ditulis lengkap seperti pada identitas buku di perpustakaan, atau hanya nama kita saja di awal halaman buku.


Itu beberapa hal yang saya lakukan pada buku-buku yang saya punyai. Satu-persatu buku-buku bisa saya miliki sendiri, hingga memiliki kesempatan untuk berbagi dengan yang lain, tanpa harus khawatir buku yang dipinjamkan rusak.

Minggu, 20 Oktober 2013

Akhir Pekan yang Sehat

Ahad. 20 Oktober 2013 aku lewati tidak seperti biasanya. Jam 6 pagi sudah meninggalkan kos untuk agenda olahraga bareng teman-teman santika se Jatim. Surprise, karena agenda olahraga tidak seperti biasanya, setelah melakukan pemanasan dan joging selama 30 menit, kami menyiapkan diri untuk belajar memanah,... wauw,,, ini adalah kali pertama saya memegang panah dan membidik sasaran. Ternyata... tidak semudah yang dilihat dan dibayangkan.
Bersiap dengan Busur panah yang besar, anak panah yang harus hati-hati ketika memegangnya, dan konsentrasi ketika melepaskan anak panah dari busurnya... semua itu tidak mudah ternyata... Alhamdulillah,,, saya bisa mengalami itu semua, walaupun hanya sebentar, semoga lain waktu saya bisa melakukan latihan ini lebih rutin lagi.

Pas saat anak panah melayang

Posisi ini, jika salah bisa membuat sakit badan

Pengalaman pertama yang sulit dilupakan. Latihan selanjutnya adalah menembak menggunakan airsoftgun, semoga bisa ikut serta...