This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label perasaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perasaan. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Oktober 2015

Mengetahui karakter manusia

Aku bukanlah seorang psikolog, atau mahasiswa yang sedang kuliah di jurusan psikologi. Aku hanya seorang perawat yang menyenangi dunia psikologi, dunia yang – katanya- bisa membaca pikiran orang lain. Sesekali, membaca buku atau artikel yang membahas tentang psikologi, lebih khusus yang membahas tentang karakter seseorang.
Maka, ketika aku seringkali sensitive dengan tatapan, bahasa tubuh, gaya bicara, tulisan atau gaya berbusana dari seseorang, hal itu tidak terlepas dari kegemaranku tentang dunia yang satu ini. Bukankah karakter seseorang dapat dilihat dari poin-point tersebut? Terlebih, kegiatan sehari sehari-hari ku yang mewajibkan berinteraksi dengan banyak orang, melakukan pelayanan kepada pasien-pasien yang beragam dan memiliki karakter yang berbeda pula.
Salah satu kegemaranku adalah menatap punggung seseorang. Menurutku, punggung seseorang mencerminkan bagaimana kedalaman jiwa dari orang tersebut. Seberapa stabilnya dia ketika menghadapi masalah, atau seberapa tegas dia dalam mengambil keputusan dalam hidupnya. Apakah asumsiku benar? Entahlah. Karena ketika aku mencoba mencari artikel –karena jika itu buku, aku tidak tahu harus mencari judul buku yang bagaimana- aku belum menemukan yang membahas tentang punggung sebagai penanda karakter seseorang.
Tentang punggung, aku tidak dapat mendeskripsikan secara spesifik jenis punggung dengan karakter seseorang. Tapi satu yang dapat aku jelaskan adalah…. Ketika aku bertemu dengan seseorang, aku lihat punggungnya, kemudian aku memberi penilaian bahwa orang ini begini dan begini.
Valid? Tidak selalu. Ini lebih kepada insting, naluriku yang memang tidak bisa aku pertanggung jawabkan kebenarannya. Walau begitu, seringkali aku menaruh kegaguman pada seseorang karena punggung. Untuk membuktikan kecenderunganku –yang kata teman dekatku, aneh- aku sering melakukannya kepada seseorang yang memang aku sudah kenal. Hal ini untuk memperkuat insting yang tidak berdasar ini agar tidak membuatku sesat dengan asumsiku.
Kenapa?
Hal ini tidak lain karena aku sering tertarik, dan bisa akrab dengan seseorang, baik laki-laki atau perempuan karena tiga hal; pertama, karena mata, kedua, suara, ketiga, punggung.
“mata adalah tanda seberapa luas keilmuan seseorang yang ada dalam kepala, sedangkan punggung adalah tanda seberapa luas jiwa seseorang yang ada dalam dada”
Ini adalah prinsip yang aku pahami.
Dan suara…adalah pembuktian dua hal tersebut.
Bukan pada cempreng atau renyah suara tersebut, tapi charisma yang terpancar ketika dia berbicara. Sama halnya tentang wajah, bukan pada tampan atau biasanya wajah itu, tapi rona charisma yang terpancar dari pemilik wajah itu.
Dan bukankah suara juga termasuk aurat? Dan kelemahan wanita terletak pada telinga. Jadi…ketertarikanku terhadap hal tersebut adalah suatu fitrah kemanusianku. Dan aku baru tahu, rahasia dari suara yang berkharisma adalah, suara yang pemiliknya mempergunakan untuk membaca ayat-ayat Nya.
Selain mata, suara, dan punggung, tulisan adalah saranaku untuk mengenal bagaimana orang tersebut. Ada seseorang yang berusia tua, namun ketika menulis status saja tidak ubahnya seperti anak SMA yang baru menapaki usia-usia pubertas. Sebaliknya, ada anak yang baru berusia remaja, namun bisa menuliskan layaknya orang dewasa.

Jadi, untuk mengenal bagaimana seseorang itu tidak harus butuh waktu yang lama. Kenali apa yang penting dan menurutmu prinsip di awal-awal, selanjutnya…seiring berjalannya waktu lakukan terus komunikasi untuk mengenal seseorang lebih dekat. Agar penilaianmu tidak hanya sebatas asumsi.

Minggu, 15 September 2013

Untuk kesekian kalinya....


Untuk kesekian kalinya...
aku harus berterimakasih pada Ramah (alm) yang telah mengajarkanku membaca dari usia preschool. Sebuah kegiatan yang tidak pernah didapatkan oleh dua orang saudaraku
Untuk kesekian kalinya...
aku  harus berterimakasih pada Ramah (alm) yang telah mengajarkanku untuk cinta membaca dengan cara menyenangkan.
Karena...
Untuk kesekian kalinya...
aku mendapatkan manfaat dari kegemaranku membaca buku. Baik fiksi ataupun non fiksi. Dari novel romance, historical fiction, petualangan, maupun yang science fiction.
Ramah, mengajarkanku membaca sejak usiaku 4 tahun. Secara formal. Setiap habis maghrib adalah jadwalku untuk belajar membaca. Sebuah paksaan? Bisa jadi. Tapi, aku melihat ini sebagai bentuk kewajiban orang tua pada anaknya. Namun yang unik adalah, kewajiban belajar membaca sejak usia preschool tidak aku temukan pada mas dan adikku.
Selain waktu wajib setiap ba’da maghrib, waktu belajarku yang lain adalah ketika kami bepergian. Sepanjang perjalanan, Ramah akan memberikanku tebak-tebakan. Apa tulisan atau nama jalan, toko, atau baliho iklan yang kami temui sepanjang perjalanan.
Karena sudah dilatih, dan dibiasakan untuk membaca inilah yang menjadi penyebab utama aku kemudian gemar membaca. Ketika SD, aku membaca buku-buku paket bahasa indonesia milik kelas yang lebih atas. Saat aku kelas tiga, aku sangat suka membaca kisah dua musafir yang tersesat di padang pasir dan mengalami kehausan. Kisah ini berjudul “kaktus ajaib” cerita yangaku temui di buku paket milik anak kelas enam, yang tidak lain adalah milik masku. Karena saking seringnya diulang-ulang untuk dibaca, aku sampai hafal keseluruhan isi kisah tersebut. Karena saat SD perpustakaannya tidak terawat, maka kegemaranku membaca agak terganggu. Sehingga jika ada buku atau novel yang tergeletak di rumah, aku akan membacanya berulang-ulang.
Ketika SMP, bacaan favoritku adalah Lima Sekawan karya Enid Blyton. Dari sinilah kegemaranku membaca novel tersalurkan. Hampir setiap akhir pekan atau ketika PR tidak banyak, aku akan membaca pulang novel-novel yang ada diperpustakaan. Jadilah, selama 3 tahun di SMP, aku mengahabiskan serial Lima sekawan dan Sapta siaga karya Enid Blyton, Goosebumps karya R.L Stine, dan serial kocak pelajar SMA paling populer saat itu ‘LUPUS’ karya Hilman.
Saat SMA, barulah perkenalan dengan novel-novel Islami terbitan DAR!Mizan dan para penulis FLP aku lahap. Walaupun koleksi perpus tidak banyak, tapi cukup membuatku ketagihan dengan buku-buku yang ada. Di saat SMA inilah aku berkenalan dengan karya sastra Indonesia jaman dulu. Interaksi awal tidak lain karena tuga resensi yang diberikan. Selain itu, di masa SMA inilah aku mengenal Novel science fiction.
Saat kuliah, disinilah aku berkenalan dengan buku pergerakan. Pemikiran tokoh-tokoh keren. Mereka yang hidup tidak hanya untuk dirinya, tapi perbaikan dunia ini. Berinteraksi dengan buku-buku ini memang bukan tanpa sebab. Lingkungan baru yang aku masuki, mewajibkanku untuk membaca buku-buku “berat” ini. Dan disaat ini pulalah, bacaanku semakin beragam. Aku mengenal historical fiction, buku sastra terjemahan, dan buku traveling.
Dan... dari kegemeranku membaca, aku mendapatkan banyak manfaat. Yang paling terasa adalah, dengan membaca aku bukanlah seorang yang kuper alias kurang pergaulan. Walaupun tidak pernah berkunjung ke suatu daerah, dengan membaca aku tahu kondisi di sana, bagaimana penduduknya, dan lain-lain. Dengan membaca, aku bisa mengenal dunia diluar disiplin ilmu yang aku tekuni. Membaca novel yang berkisah tentang arsitektur, aku mendapat sedikit ilmu tentang arsitektur, membaca novel yang setting tempat di daerah sumatra, aku sedikit tahu bagaimana masyarakat dan kondisi alam di sana. Dan itu sangat menyenangkan. Dan kini, aku merasakan manfaatnya. Ketika bertemu dengan orang yang baru dikenal, tidak merasa takut untuk tidak nyambung, karena aku memiliki bahan untuk dibicarakan. Seperti kemarin, ketika menamani temanku mengantar temannya dari Bengkulu jalan-jalan di Surabaya, aku tidak benar-benar mati kutu karena aku bisa masuk pada pembicaraan mereka. Pun, ketika menghadapi adik mentor yang beda jurusan, bekal dari beberapa hal yang aku dapat dari membaca, sangat bermanfaat untuk memperpanjang diskusi kami.
Nah, dan untuk kesekian kalinya...
Aku membuktikan bahwa buku adalah jendela dunia... dengan banyak membaca aku banyak tahu tentang dunia yang tengah aku tinggali...
Untuk kesekian kalinya.. .
Terimakasih Ramah untuk pengajarannya, terimakasih perpus SMP N 2 dan SMA N1 Pamekasan untuk koleksi buku-bukunya, dan terimakasih untuk teman-temanku yang sering aku pinjami buku.

Rabu, 17 Juli 2013

Keperawatan, Apakah Aku sudah Mencintainya?


          Alhamdulillah, masa penantian selama lima tahun (tambah 6 bulan) akhirnya usai. Gelar S.Kep, Ns Insya Allah tidak lama lagi akan ikut menghiasi nama panjang. Merasa bahagiakah, bangga, terbebani atau justru lega karena terbebas dari segala rutinitas selama masa kuliah dan profesi – yang katanya – tidak manusiawi. Apapun perasaan itu, yang jelas aku bersyukur sudah dapat menyelesaikan pendidikan di fakultas keperawatan dengan baik, dengan apa yang bisa aku lakukan untuk menyelesaikan apa yang sudah aku pilih.
Menyesal kah aku masuk di dunia ini? Tidak, lebih tepatnya sudah tidak lagi. Toh untuk apa? Tidak ada yang pernah memaksa ku untuk memilih jurusan ini. Yang bahkan uang untuk membeli formulirnya aku usahakan sendiri. Untuk apa aku menyesal berada di sini, ketika aku bisa melihat senyum pengharapan dan kebahagiaan dari orang tercinta dengan apa yang sudah aku lalui selama masa lima tahun ini. Untuk apa menyesal, ketika begitu banyak pengalaman berharga, pertemanan yang membahagiakan, dan perbaikan diri yang didapatkan, semua aku dapatkan selama aku menjalani masa-masa sulit kuliah di keperawatan.
Menyesal kah masuk di keperawatan? Tidak, lebih tepatnya tidak lagi. Kuliah di keperawatan menjadi obat untuk semua keinginan yang pernah aku harapkan. Keperawatan, memberikan hampir semua disiplin ilmu yang ingin aku pelajari. Mulai dari lingkungan, psikologi, sosial,  dan kesmas. Mulai dari pencegahan, perawatan, hingga pengobatan. Menurutku, ilmu yang didapatkan di keperawatan dapat membuat kita bebas berekspresi, tidak hanya seputar merawat pasien saja. Prinsip holistic care, adalah hal yang paling aku sukai. Karena dari sini aku belajar tentang pola berpikir menyeluruh, tidak parsial ketika melihat suatu permasalahan. Dari keperawatan aku belajar tentang sebab suatu masalah terjadi dari tugas-tugas WOC, jadi bagaimana menyelesaikan suatu permasalahan, walaupun tampilannya sama tetap intervensi harus berbeda jika penyebabnya berbeda. Dan jangan lupa, di keperawatan juga kita belajar tentang Manajemen keperawatan yang bisa dijadikan acuan selama beraktivitas di organisasi (yang ini tahu nya terlambat).
Menyesal kah masuh di keperawatan? Tidak, lebih tepatnya tidak lagi. Ilmu yang didapat di keperawatan sangat bermanfaat ketika nanti sudah memasuki dunia keluarga. Walaupun dari sekarang ilmu itu bermanfaat. Ingat pernyataan seorang teman; “paling tidak kita dapat gunakan ilmu yang selama ini kita dapat dibangku kuliah nanti setelah kita berkeluarga”. Keperawatan keluarga, keperawatan anak, keperawatan maternitas, bahkan keperawatan komunitas adalah ilmu-ilmu penting yang harus dimiliki seseorang ketika akan memasuki dunia keluarga. Jika akhir-akhir ini banyak tulisan “menantu ideal adalah... istri ideal adalah.... suami ideal adalah....” dan bagi saya keperawatan dapat memenuhi titik-titik itu.
Lalu, sudahkah aku mencitainya? Pertanyaan ini penting tidak penting. Penting karena awal masuk, aku merasa denial makanya masa-masa selama empat tahun adalah masa-masa yang berat. Tidak penting karena toh, sekarang aku sudah selesai menempuh pendidikannya. Tapi bagiku ini tetap penting, karena orang akan melihat sebagai seorang alumni keperawatan dengan gelas Ns yang menurut penilaian mereka aku pasti tahu tentang penyakit yang mereka derita. Dan tentu saja ini beban tersendiri.
Walaupun tidak secara jelas, aku mulai merasakan cinta itu perlahan hadir ketika menjalani profesi. Memang tidak selalu, perasaan itu naik turun, kadang hadir kadang tidak. Tapi dari sekian banyak kejadian, aku memantapkan diri untuk mempertahankan cinta itu. Kenapa? Aku hanya tidak mau capek sendiri. Karena apa-apa yang dijalani tanpa ada rasa cinta, sungguh melelahkan. Karena cinta adalah penggerak. Rasa bersalah ketika ada orang yang bertanya, tapi tidak mampu aku menjawab adalah salah satu pemicu munculnya cinta itu.Terimakasih untuk yang sudah “mengganggu” ku dengan pertanyaan seputar keperawatan.
 Akhirnya, bagaimanapun yang sudah aku alami selama 5 tahun 6 bulan di fakultas keperawatan, aku tetap dan akan selalu bersyukur sudah mendapatkan kesempatan itu. Teman, pengalaman, ilmu yang berharga sudah aku dapatkan. Sekarang, tidak ada lagi penyesalan, dan cinta sudah mulai tumbuh.

*Repost Notes FB tertanggal  27 Februari 2013 pukul 12:38. Ketika merindu saat-saat profesi

Senin, 08 Juli 2013

Jodoh adalah Rahasia Allah



          Ramadhan telah tiba, otomatis akan diikuti dengan hari raya. Agenda yang paling sering digelar saat ramadhan dan bahkan dua bulan sebelumnya adalah... apalagi jika bukan pernikahan. Dan bahkan agenda pernikahan ini akan lebih ramai ketika sudah memasuki waktu antara dua hari raya.  Ehm... bagi yang masih belum berkesempatan menyebar undangan atau yang sudah pernah menyebar, maka bersiaplah ketiban undangan dari banyak pihak. Tentu saja, rasa yang diterima oleh orang yang sudah berpengalaman dengan yang masih belum pengalaman akan berbeda. Dan pertanyaan pasti tidak jauh dari...
          “Kamu kapan nyusul?”
          Jika pertanyaan ini diajukan pada orang yang masih baru lulus kuliah yang berumur 23-25 tahun, masih ok lah. Mungkin itu pertanyaan pertama yang mereka dapat. Tapi, jika yang ditanya adalah orang yang usianya 25 ke atas? Mungkin mereka sudah bosan mendengar pertanyaan itu. Tahukah kalian, pertanyaan kapan menyusul untuk menikah adalah pertanyaan yang jawabannya juga tidak diketahui oleh yang ditanya. Karena jodoh adalah rahasia Allah. Jika dalam prosentase, 90% peran Allah, sisanya adalah manusia. Terlebih jika pertanyaan ini diajukan pada seorang perempuan.
         
Kenapa?

          Ingat lirik lagu Sheila On 7 yang berjudul “Untuk Perempuan”
Tidaklah mawar hampiri kumbang
Bukanlah cinta bila kau kejar
Tenanglah tenang dia kan datang
Dan memungutmu ke hatinya yang terdalam

Ya, perempuan ibarat bunga, dan laki-laki adalah kumbang. Sunnatullah nya adalah kumbang yang akan menghampiri bunga, bukan sebaliknya. Walaupun dalam sejarah agung umat ini ibunda kita mencontohkan tentang pengajuan diri, tetap yang melakukan eksekusi adalah pihak pria. Jadi, jika saya yang ditanya kapan menikah? Saya akan menjawab: menunggu yang menjemput.
Namun, ada yang iseng berpikiran bahwa seseorang perempuan yang tidak segera menikah memiliki kriteria yang terlalu ribet. Atau ada yang berpikiran dia tidak berusaha. Ah, terlalu ingin tahu urusan orang. Ada urusan apa mereka dengan perempuan yang belum menikah? Jika tidak tahu, jangan mudah men-judge. Mereka sudah berusaha, berdo’a, tapi apa yang bisa diperbuat ketika belum ada yang menjemput?
Pun dengan laki-laki. Meskipun aku sering kali bertanya apa yang menyebabkan pria berusia diatas 25 tahun, dengan pekerjaan yang sudah mapan tidak kunjung menikah? Mereka terlalu pemilih, tidak berani, atau memang belum dipertemukan? Entah, aku tidak berani men-judge kaum laki-laki yang walaupun mereka memiliki otoritas lebih dalam menjemput jodohnya. Karena tetap saja, jika Allah belum berkehendak, seberapapun dia berusaha tidak akan dipertemukan dengan jodohnya. Seperti kisah Azam dalam film ketika cinta bertasbih.
So, berhentilah bertanya pada mereka yang belum juga dipertemukan dengan jodohnya ketika usia sudah mendekati kepala tiga atau bahkan sudah memasuki. Karena mereka pun tidak tahu kapan moment yang ditunggu hadir menyapa. Do’akan mereka, agar segera dipertemukan dengan jodoh yang sudah dipersiapkan. Itu akan lebih membantu dan tidak menyakiti saudara kita.

Selasa, 15 Maret 2011

Sebuah Permohonan



Aku mohon ijin
Untuk mundur beberapa langkah
Untuk mencapai lompatan lebih tinggi
Paling tidak, berdasarkan analisisku
Analisis yang aku bangun ketika idealism diri terbentur oleh realitas

Aku mohon ijin
Untuk mengambil keputusan ini
Aku tahu akan mengecewakan kalian
Kalian yang telah percaya dan berharap banyak padaku
Tapi aku tak punya pilihan
Paling tidak, untuk saat ini

Aku mohon ijin
Jika harus memilih ini
Aku harap kalian paham
Bahwa sekarang aku dihadapkan pada realitas yang berbeda
Hal yang sebelumnya tidak terpikirkan

Ijinkan aku
Jika keputusan itu akhirnya aku ambil
Maafkan aku
Karena tidak bisa menjalankan kepercayaan dan mewujudkan harapan kalian

Do’akan aku
Semoga harapan dan kepercayaan kalian adalah penguatku
Semoga ada pilihan lain yang bisa aku ambil
Dan akhirnya tidak memilih pilihan itu

Tenaga kerja, anak, dan masa depan bangsa.*


Jumlah pekarja Indonesia di luar negeri mencapai dua juta jiwa. Mereka ditempatkan dibeberapa Negara. Misal Malaysia, Arab Saudi, Taiwan, Hongkong, dan beberapa Negara lain. Mereka berjuang mencari asa untuk bisa hidup dan menghidupi keluarganya. Rela meninggalkan kampung halamannya, meninggalkan keluarganya dan anak-anaknya. “Hanya” demi memenuhi kebutuhan hidup, yaitu material. Sedangkan kebutuhan nonmaterial mereka, juga anak-anaknya tidak lagi mereka anggap penting. Karena bagi mereka, tanpa uang yang cukup mereka tidak akan bisa hidup.

            Tenaga kerja juga manusia yang memiliki perannya sebagai orangtua, mereka berperan menjadi seorang pendidik bagi anak-anaknya agar sang anak mencapai kecerdasan yang maksimal. Setiap orang ingin mempunyai anak yang cerdas. Termasuk juga para tenaga kerja. Karena kecerdasan adalah modal penting bagi anak untuk mengarungi kehidupan. Mereka juga menginginkan anaknya memiliki pendidikan yang bagus, tinggi, sehingga tdiak bernasib sama seperti orang tuanya.
            Generasi yang sehat dan cerdas diharapkan dapat menjadi tonggak kemajuan bangsa. Hal ini pula yang menjadi tanggung jawab orangtua sebagai orang yang paling dekat dengan anak. Hanya saja, untuk merealisasikannya bukanlah hal yang mudah karena membutuhkan pemenuhan secara materi, mental, dan social.
            Jika mereka hanya berfokus dalam pemenuhan kebutuhan material saja, bagaimana dengan kebutuhan mental dan sosialnya?. Padahal dua hal itu membutuh orangtua yang mendampingi anak terus menerus. Ada disamping anak ketika mereka memilki banyak pertanyaan yang ingin mereka ajukan terkait apa yang mereka dapat dari dunia sekitar yang mereka lihat. Tidak adanya orangtua disamping mereka akan membuat tahap perkembangan ada yang terlewatkan. Dan tentu aja tidak akan sempurna.
            Cerdas atau tidaknya seorang anak, tergantung bagaimana orangtua memperlakukannya.  Karena mereka ibarat kertas putih yang isinya tergantung orangtua menginginkan apa untuk anak-anknya. Proses itu sudah dimulai dari sang anak berada dalam kandungan hingga dia lahir, tumbuh, dan berkembang. Perjalanan dan hasil akhir dari proses ini sagat bergantung pada orangtua. Artinya, perlakuan oarngtua akan menetukan masa depan seorang anak.
            Bagi seroang pekerja hal ini mungkin sulit untuk mereka lakukan. Mereka yang berasal dari keluarga menengah kebawah, dengan kondisi ekonomi yang kurang, juga akan beri8mbas pada status gizi dari seorang ibu ketika mengandung seorang anak. Kemudian, ketika sudah melahirkan sang anak akan ditinggal dan ditiipkan pada kelurga lain atau pada neneknya. Tentu saja mereka akan mendapatkan perlakuan yang berbeda dari orang yang mengasuh. Walaupun pengasuh itu adalah nenek.
            Hal seperti ini tidak dapat terus dibiarkan. Pemerintah harus memikirkan bagaimana nasib anak-anak yang ditinggalkan orangtuanya mencari nafkah keluar negeri.karena hal ini berkaitan dengan lingkaran yang sulit untuk diputuskan. Saling terkait satu sama lain. Kemiskinan, lapangan kerja yang kurang, kepahaman tentang pentingnya orang tua untuk ikut serta dalam pendiidkna anak-anaknya, saling berkait satu sama lain. Jika hal ini terus berlanjut, bagaimna nasib bangsa kedepan? Apakah akan diisi dengan orang-orang dewasa yang masa kecilnya tidak terpenuhi dengan sempurna? Yang juga akan menyebakan dampak yang negative. Tidak semua memang. Tapi beberapa kasus yang terjadi bisa dijadikan bahan renungan bagi pengambilan kebijakan. Seperti halnya kasus anak yang diperkosa ayahnya sendiri karena istrinya pergi merantau, di lecehkan oleh tetanggaya, dan lainnya.
            Misalnya ada dua juta tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri. 70% di antaranya mempunyai anak dan mereka tinggal. Maka ada sekitar 1.400.000 orang anak yang tidak terpenuhi tahap perkembangannya. Tidak terpenuhi pendidikannya secara sempurna.
            Bagaimanapun, anak-anak adalah aset bangsa. Bagaimana kedepannya sebuah bangsa tergantung pada bagaimana anak-anaknya dididik. Jika mereka mendapatkan pendidikan tidak sempurna akan berdampak pada keperibadian yang tidak sempurna pula. Dan hal ini tentua tidak diharapkan. Semoga pemerintah dan siapaun yag terkait didalamnya segera menyadari hal ini. Karena masalah ini adalah masalah yang disebabkan karena satu hal tapi memilik dampak yang meyeluruh.
*opini Mutiara bulan November

Pemimpin, Pahlawan, dan Pengorbanannya*


 Sekarang ini rakyat Indonesia tengah mendapat tawaran terkait penganugrahan gelar pahlawan terhadap mantan presiden negeri ini yang itu Suharto. Sama seperti kasus yang lain. Masalah ini pun mendapatkan pro dan kontra dari masyarakat. Ada yang setuju, ada pula yang menolak. Mereka memiliki alasan masing-masing mengapa mendukung ataupun mengapa menolak. Perbedaan pendapat itu sah-sah saja. Karena negeri ini adalah Negara demokrasi yang kebebasan berpendapat terbuka lebar.
            Lalu, apa sebenarnya pahlawan? Mengapa ada perbedaan pendapat terkait penyematan pahlawan pada diri seorang Suharto? Kata pahlawan dalam kamus besar Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari dua kata Pahla dan Wan.
Pahla mengandung makna buah, sedang Wan untuk sebutan orangnya (bersangkutan). Pengertian secara luas pahlawan (baca: pahlawan nasional) adalah orang yang menghasilkan sebuah karya untuk kepentingan bangsa dan negara atau seorang pejuang gagah berani yang mengorbankan jiwa dan raga untuk kepentingan Bangsa dan Negara.
Seperti kisah seorang Florence Nightingale untuk menyelamatkan korban perang. Dia mendedikasikan dirinya untuk membantu para korban perang tersebut untuk mendapat perawatan sebagaimana mestinya. Meskipun mendapat larangan dari orang tuanya, dia tetap bertahan dengan apa yang diyakininya. Pada saat itu, profesi perawat masih diaggap sebuah profesi rendahan dan identik dengan hal yang negative. Tapi, Florence tetap bertahan dengan pendiriannya sehingga tercetuslah teori environmental nursing yang digunakan sebagai rujukan model keperawatan samapai saat ini.
            Sedangkan putu wijaya mendefinisikan, pahlawan  sejati adalah cahaya yang menuntun rakyat ke tujuan. Menemani langkah setiap orang menembus kemelut hidup menuju terang. Membisikkan pesan agar selalu memenangkan kebenaran. Dia jadikan hidup sebuah pertempuran panjang dengan pengabdian, pengorbanan demi kebahagiaan bersama.
            Pengabdian dan pengorbanan yang identik dengan seorang pahlawan. Tidak ada orang yang dinobatkan sebagai pahlwan tanpa ada pengorbanan yang dia lakukan. Bukan pengorbanan sesaat, tapi sepanjang hidupnya dia korbankan untuk keberhasilan perjuangannya. Orang-orang yang ada di balik kemerdekaan bangsa Indonesia, adalah orang-orang yang sudah mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan bangsa ini. Mereka rela mengurangi waktu untuk keluarganya. Bahkan untuk dirinya sendiri. Tuanku imam bonjol, pattimura, Christina Martha tiahahu, cut nyak dien, dan yang lainnya. Adalah contoh pahlawan sejati yang dimiliki bangsa ini.
            Seorang pahlawan sejati tidak membutuhkan pujian dari apa yang mereka lakukan. Mereka bekerja dalam sunyi tanpa ada yang tahu kecuali dia sendiri dan Tuhannya. Dalam islam, begitu banyak pahlawan yang sudah gugur untuk tegaknya agama ini. Mereka tidak butuh untuk mendapatkan gelar pahlawan, karena syahidlah tujuan mereka.
            Pahlawan dan pengorbanan adalah sesuatu yang selalu beriringan. Meskipun tak selalu orang yang melakukan akan dicatat sebagai pahlawan. Khalifah umar yang merupakan pemimpin wilayah yang luasnya hampir 2/3 bumi. Hidup dalam kesederhanaan meskipun beliau adalah petinggi Negara besar. Umar benar-benar menunjukkan pegorbanannya untuk rakyat. Ketika terjadi paceklik didaerah kekuasaannya, dia mengharamkan daging masuk keperutnya. Ketika suatu waktu beliau berkeliling untuk melihat kondsi warganya, dia menemukan satu keluarga yang kelaparan, dan yang dia lakukan adalah memanggul sendiri gandum yang akan diberikan pada rakyatnya.
            Dari semua pengorbanan yang telah umar lakukan, dia tidak pernah berharap mendapatkan gelar pahlawan. Padahal, betapa besar pengorbanan untuk rakyatnya. Bagitu juga dengan umar bin abdul azis. Meskipun kedudukan sebagai khalifah adalah cita-citanya, dia tidaklah sibuk memenuhi apa yang dia inginkan. Tapi justru, ketika dia menjadi khalifah, dia mengorbankan apa yang dia miliki untuk membuat Negara yang dipimpinnya terbebas dari kemiskinan yang membelenggu saat itu. Dua setengah tahun masa pemerintahan beliau. Singkat memang, tapi berhasil merubah Negara yang awalnya miskin, menjadi Negara yang kebingungan untuk menyalurkan zakat karena didaerahnya sudah tidak ada yang mau menerima zakat.
            Begitulah seharusnya seorang pahlawan. Berkorban sepenuh jiwanya untk melihat negerinya menjadi lebih baik. Tidak hanya satu sisi berhasil, tapi sisi lain tidak tergarap. Sehingga, ketika penyematan gelar pahlawan dianugrahkan pada satu orang tidak aka nada yang akan memprotesnya. Apakah orang itu pantas untuk mendapatkan gelar pahlawan atau tidak.  
* tulisan yang saya buat untuk opini beasiswa Mutiara bulan oktober

Kamis, 10 Maret 2011

BELAJAR KETEGUHAN DALAM BERTAHAN TERHADAP SUATU YANG DIYAKINI

Belajar keteguhan dalam bertahan terhadap suatu yang diyakini dari diri seorang Muhammad ketika pemuka quraisy mendatanginya dan menawarkan kenikmatan dunia.

“apa yang kau cari hai Muhammad? Jika yang kau ingini dari mempejuangkan ini adalah uang, kami akan memberikannya padamu sebanyak yang kamu minta asal engkau bersedia berhenti menyeru orang untuk mengikutimu. Jika yang engkau melakukan ini untuk mendapatkan pangkat, kami akan menjadikanmu pemuka kaum disini. Atau jika kamu menginginkan wanita, kami akan menikahkan engkau dengan gadis paling cantik dari kaum kami. Dengan syarat engkau menghentikan apa yang sudah engkau lakukan selama ini.” Begitulah tawaran yang diberikan para pemuka quraisy untuk menghentikan nabi Muhammad menyerukan kebenaran islam. Tapi apa jawaban beliau?

“meskipun kalian meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku, tidak akan sanggup menghentikan aku untuk terus menyeru manusia meyakini kebenaran yang aku bawa”

Dan semua orang terdiam mendengar pernyataan dari seorang Muhammad yang sangat meyakini kebenaran yang dia bawa.

Belajar keteguhan dalam bertahan terhadap suatu yang diyakini dari diri seorang Ka’ab bin malik ketik raja Ghassan dari syams menawarinya kedudukan di kerajaan yang dia pimpin ketika ka’ab menghadapi boikot dari seluruh kaum muslimin akibat mangkirnya dia dari perang.

Ketika itu ka’ab merasa bumi sempit baginya. Hidup dalam kesendirian. Diasingkan. Bahkan oleh keluarganya sendiri. Bahkan istrinya harus dia antar kerumah orang tuanya. Saat itulah tawaran yang sangat menggiurkn itu datang.

“Orang-orang di pasar itu menunjuk kepadaku, lalu orang itu datang kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat dari raja Ghassan. Setelah kubuka, isinya sebagai berikut, “… Selain dari itu, bahwa sahabatmu sudah bersikap dingin terhadapmu. Allah tidak menjadikan kau hidup terhina dan sirna. Maka, ikutlah dengan kami di Ghassan, kamu akan menghiburmu!”
Hatiku berkata ketika membaca surat itu, “Ini juga salah satu ujian!” Lalu aku memasukkan surat itu ke dalam tungku dan membakarnya.”

Begitulah seorang ka’ab bin malik bertahan terhadap apa yang diyakini.

Belajar keteguhan dalam bertahan terhadap suatu yang diyakini dari diri seorang yusuf ketika dia menolak untuk ta’at dalam hal keburukan kepada majikannya. Maka dia berdo’a pada Tuhannya.

“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh."(Q.S: yusuf :33)

Mekipun penjara yang pada awalnya dia dapatkan, tapi pada akhirnya dia mendapatkan suatu kedudukan tinggi di kerajaan Mesir di mana dia pernah dipenjarakan.

Belajar keteguhan dalam bertahan terhadap suatu yang diyakini dari diri seorang Ramah ketika dia ditawarkan untuk “berdamai” dengan kasus yang sedang dia hadapi.

“jika bapak bersedia membayar sejumlah yang sudah kita sepakati, kasus ini akan diputihkan. Dan bapak bisa pulang sekarang juga.”

“apa yang harus saya bayarkan? Ada uangpun saya tidak akan membayarkan. Untuk apa?”

Jika bapak tidak menngikuti kesepakatan, bapak akan dipenjara. Bagaimana dengan nama baik bapak dan keluarga bapak?”

“jika itu yang saya harus hadapi, saya akan menghadapi” saya lebih baik dipenjara daripada menyerah pada apa yang tidak saya lakukan”

“silahkan hubungi kaeluarga bapak, bapak akan masuk penjara saat ini juga”

Ya, seperti itulah keteguhan seorang ramah menghadapi kasus yang dia tidak mengetahui kenapa dia ditetapkan sebagai tersangka. Tapi yang dia yakini, adalah tidak menutup sebuah kesalahan dengan kesalahan yang lain. Meskipun kesalaan itu tidak dia lakukan. Dia rela masuk penjara dari pada berdamai dengan sesuatu yang dia tidak tahu kenapa hal ini menimpanya?

Ya Allah, semoga aku bisa mengambil pelajaran dari orang-orang yang sudah Engkau karunia keteguhan hati untuk bertahan dalam kebenaran ketika aku menghadapi hal serupa.