This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 16 Juli 2013

Ulasan Novel "A Cup Of Tarrapucino"


  
Novel romance pertama tanpa latarbelakang sejarah yang saya beli. Berawal dari rasa penasaran novel lain daripenulis yang sama, dan ada promosi yang ditawarkan oleh salah satu toko bukuonline, maka jadilah saya membeli buku ini dengan patungan bersama teman yangsama-sama penasaran dengan novel yang lain tersebut. Tidak ada salahnya sayapikir untuk mengoleksi novel ini. Penilaian dari pembaca rata-rata memberikantiga bintang terhadap novel ini, sekaligus untuk perkenalan dengan penulis yangkaryanya baru kali ini saya baca.
            A cup of tarapucino berkisah tentangTara yang menjadi salah satu pemilik Bread Time Bakery. Di awal buku,disuguhkan prolog tentang kebimbangan Tara menerima lamaran Raffi yangmerupakan partner di Bread Time Bakery yang tidak lain adalah sepupunya.Kebimbangan ini disebabkan karena Tara tidak memiliki perasaan khusus terhadapRaffi kecuali menganggapnya sebagai sepupu dan partner kerja. Ada rasa yangTara simpan untuk seseorang di masa lalu, yaitu Hazel.
            Kisah selanjutnya menceritakankembali bagaimana mereka bertiga dipertemukan. Bread Time bakery adalah tempatyang menjadi pusat dari keseluruhan kisah ini. Tentang Tara dan Raffi sebagaiowner, Hazel yang menjadi pengunjung setia dan akhirnya menjadi karyawan diBread Time, serta sabotase yang dilakukan oleh mantan relasi bisnis Bred Timeyang ternyata memiliki keterikatan dengan Hazel yang akhirnya mengungkap jatidiri seorang Hazel dan menjadi konflik dalam cerita ini.
            Novel ini menyuguhkan tentang bagaimanasebuah Bakery dibangun. Tentang roti, mulai dari memilih bahan pembuatnya agarbenar-benar aman dikonsumsi baik secara kesehatan dan aturan agama. Karenasetting tempat di Batam, maka suasana kota Batam digambarkan cukup detail.Mulai aktivitas masyarakat yang “normal” hingga aktivitas illegal yang ada diBatam.
            Dari segi penulisan, membaca novelini tidak terganggu dengan tulisan yang salah ketik,kualitas kertas bagus,namun sayang, tidak ada pembatas buku. Awalnya agak bingung dengan kisat di bagiansatu yang menceritakan tentang aktivitas bongkar muatan barang illegal dengankeseluran kisah. Bingung juga dengan hubungan tokoh bernama Diaz. Tapi di akhirsemua terjawab. Cerita yang awalnya datar, berubah menjadi menegangkan ketikatindakan sabotase mulai dilakukan oleh relasi bisnis. Secara keseluruhan,cerita dari novel ini bagus, informasi tentang kota yang belum pernah sayakunjungi cukup memberikan gambaran. Namun, akhir kisah yang menggantung membuat penasaran.

#suka denganpuisi di akhir kisah

Debu itu
Bernama masa lalu
Terlalu tebal
Terlalu memeriahkan
Enggan untuk menyingkir,
Bahkan tak terusik jua
Oleh pijar jiwa yang menyebar hangat

Inginku berteriak lantang pada dunia
Biarlah waktu akan menjawab!
Biarlah waktu yang bersuara!
Tapi teriakan itu kubungkam sendiri
Lalu kulumat dan kutelan bulat

Aku tak mungkin menunggu waktu
Karena waktu tak pernah memihak
Pada mereka yang pasrah menunggu
Pada mereka yang kaku berdiri
Juga tak bisa ku picingkan mata
Dari semua yang mengintip di balikpunggungku

Namun hari ini
Detik ini
Biarkanlah aku untuka sesaat
Menarikan wujudku
Melepas rinduku…inginku…
Hanya sebatas imaji
Dan dalam jarak
Yang tak jua mampu ‘tuk mendekat

PING! A Message From Borneo


  "Demi Allah, seandainya seekor keledai di irak terperosok jatuh lantaran jalan yang dilaluinya rusak, aku takut akan diminta pertanggungan jawabnya oleh Allah di hari kiamat."
~Umar Bin Khattab~
         
Membaca novel karya Riawani Elyta dan Shabrina W.S ini, mengingatkan saya akan tulisan setahun lalu tentang dua ekor anak orang utan yang hidup di tempat rehabilitasi setelah berhasil diselamatkan dari penangkapan. Dari Novel ini, saya kembali diingatkan tentang isu lingkungan yang belum juga selesai bahkan semakin parah dari tahun ke tahun. Perburuan hewan langka semakin menjadi-jadi, belum lagi semakin sempitnya hutan yang menjadi habitat mereka. Baik karena dibuka untuk tambang atau perkebunan. Lebih miris lagi, ketika mereka masuk ke rumah penduduk karena tidak mampu lagi memenuhi makanan di dalam hutan yang semakin menipis, mereka kemudian dibunuh.
          Novel ini digarap berdua dengan dua sudut pandang. Mbak Ria melalui sudut pandang Molly, seorang mahasiswi Fakultas Ekonomi yang sangat menyukai dunia konservasi hewan langka, khususnya orang utan. Karena kegemaran inilah, mengantarkannya berpetualang ke hutan konsevasi di kalimantan bersama dua orang temannya yang berasal dari amerika, nick dan Andy sepasang kakak adik yang sangat mencintai dunia hewan langka. Mereka ke Indonesia dalam rangka penelitian tugas akhir yang dimiliki oleh Nick. Sedangkan sudut pandang kedua ditulis oleh Mbak Shabrina W.S dari sudut pandang seorang anak orang utan bernama PING. Dari sudut pandang ini kita diajak mengenal kehidupan dan kebiasaan para orang utan, dan merasakan apa yang dialami orang utan ketika hutan yang merupakan habitat mereka dibakar kemudian keluarga yang mereka sayangi mati. Hingga akhirnya para orang utan yang selamat, dirawat di lahan konservasi, dilatih, hingga siap dikembalikan ke habitat aslinya.
          Dari novel ini, saya tahu. Bahwa perhatian pemerintah terhadap kelangsungan hewan langka yang sudah dinyatakan dilindungi, minim. Lembaga konservasi di Kalimantan ini pembiayaan terbesar justru dari NGO luar negeri. Di mana peran pemerintah dalam menjaga kekayaan yang dimiliki Indonesia ini? Teringat kalimat yang disampaikan Umar Bin Khattab di awal tulisan

  "Demi Allah, seandainya seekor keledai di irak terperosok jatuh lantaran jalan yang dilaluinya rusak, aku takut akan diminta pertanggungan jawabnya oleh Allah di hari kiamat."
“bukankah hanya seekor kedelai yang jatuh, hai amirul mukminin?” begitu pertanyaan yang disampaikan ajudannya ketika Umar sangat kaget mendengar berita itu.
 “apakah engkau sanggup menjawab dihadapan Allah ketika ditanya tentang apa yang telah engkau lakukan ketika memimpin rakyatmu?” jawab umar.

Di pemerintahan Umar juga kita mendapat kisah, beliau setiap pagi menabur gandum di lereng bukit untuk memastikan burung-burung yang hidup diwilayah kekuasaannya tidak kelaparan. Subhanallah... jangankan pada manusia, bahkan pada burung saja umar tidak luput untuk memastikan kesejahteraannya.
Di negara ini? Kita bisa melihat sendiri. Berapa banyak orang yang masih kelaparan? Berapa banyak orang yang harus hidup dijalan dan kolong jembatan karena tidak punya tempat tinggal? Jika manusianya saja masih ada yang belum sejahtera karena minimnya perhatian, tidak heran jika hewan-hewan yang berada di pelosok negara ini kondisinya miris.
PING! A message from Borneo menyadarkan kita akan fakta itu. Jika di Kalimantan ada orang utan yang harus dilindungi, Sulawesi dengan Tapir nya, Sumatra ada Harimau Sumatra dan gajah yang lebih memprihatinkan lagi. Di jawa? Harimau jawa apa kabar?

Minggu, 14 Juli 2013

Potensi Wisata Pamekasan

Pamekasan, salah satu dari empat Kabupaten yang ada di Pulau Madura. Posisi kota ini ada di antara Sampang dan Sumenep. Meskipun agak jauh dari pusat pemerintahan Jawa Timur, jangan dianggap Pamekasan lebih tertinggal dari Kabupaten lain yang lebih dekat. Bukan bermaksud untuk membanggakan diri, dari sisi pendidikan, di Kabupaten ini lah SMA terfavorit se Madura ada. Sekolah yang sudah meluluskan calon doktor termuda di bidang Fisika. Kenal siapa kan? yups, dialah Andi Oktavian Latief yang tengah menempuh pendidikan S2 dan S3 di USA, Andi adalah lulusan dari SMA Negeri 1 Pamekasan.
Namun, secara pariwisata, Kabupaten Pamekasan masih tertinggal dibandingkan kota-kota yang ada di pulau jawa. Padahal, jika dilihat potensinya, Pamekasan tidak kalah dengan kota-kota tersebut, hanya memang masih belum tergarap secara maksimal. Berikut potensi wisata yang bisa teman-teman nikmati ketika berkunjung ke Pamekasan.

1. Wisata Kuliner
     Kuliner di Pamekasan cukup beragam dan memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan yang lain. Yah, beruntunglah Indonesia, kekayaan kuliner sangat beragam. Berikut, ragam kuliner yang bisa dinikmati ketika berkunjung ke Pamekasan:
a. Rujak Cingur
    Rujak cingur memang bukanlah makanan asing di kalangan warga jawa timur. tapi, uniknya adalah, Rujak cingur tiap daerah berbeda beda sesuai dengan selera masyarakatnya. Nah, sebagai orang Pamekasan, saya mengatakan rujak cingur pamekasan adalah yang paling enak dibandingkan rujak cingur dari daerah lain. kenapa? bumbu kacang yang ada di rujak cingur pamekasan mendominasi sebagai bumbu, berbeda dengan rujak cingur surabaya atau bangkalan yang menggunakan banyak petis udang dan sedikit kacang tanah, sehingga warna rujak menjadi hitam. Potongan timun yang besar, juga menambah wangi racikan rujak cingur pamekasan.
b. Sate Lalat
    Mendengar namanya, pasti kebanyakan dari kalian merasa jijik. Masak lalat dijadikan sate?, eits,, tapi tunggu dulu. Sate lalat yang ini hanyalah nama saja, bahannya tentu saja tidak terbuat dari lalat, melainkan dari daging ayam dan daging kambing. Lalu mengapa namanya demikian? ini tidak lain karena potongan yang berukuran kecil, menyerupai lalat. Nah, untuk mendapatkan sate ini, tidak perlu susah-susah. datanglah ke pusat kaki lima di Jalan Niaga saat sore hari, maka akan ditemukan deretan penjual sate ini. dan catatan: sate ini hanya ada di pamekasan, tidak di kota lain....
Sate lalat lengkap dengan bumbu kacang
sumber: Google
c. Kaldu Kokot
    Ini makanan berat lain yang bisa ditemui di Pamekasan. Rasanya gurih dan full lemak. ya,,,, secara dibuat dari bagian kaki sapi. kokot sendiri adalah sebutan kaki sapi dalam bahasa madura. Kokot biasanya akan disandingkan dengan kikil sapi, yang bisa disedot sumsumnya.... sruuup,,, enak tenan..... mungkin di kota lain ada makanan serupa, tapi berbeda nama, namun jelas yang membedakan adalah komposisi bumbu yang khas madura,, full bumbu. jadi gabungan antara gurihnya kokot digabung dengan racikan khas bumbu menambah kekhasan dari makanan ini.
Seporsi kaldu kikil dengan lontongnya 
d. Pecong
    Pecong, begitulah nama makanan ringan ini.Jangan sampai ketuker dengan "pocong" ya... karena jauuuh perbedaannya. Pecong adalah makanan dari ketan yang dibungkus daun pisang, lalu dikukus. Penyajiannya menggunakan kelapa yang disiram gula merah. Biasanya, pecong disajikan dengan cenil, apem, atau ketan. Ya, jika di Surabaya seperti klanting. 
Pecong,dkk dengan taburan kelapa dan siraman gula merah
e. Rujak campur
    Jika di Banyuangi ada rujak-soto, maka di Pamekasan Rujak-campur. Sebenarnya ini adalah masakan bernama "campur" (masakan seperti sop, tapi tidak ada sayur. hanya mihun, lontong, dan kecambah) yang kemudian disajikan dengan sambel kacang. Makanan ini hanya ada di satu tempat, namanya "Gladak Basar". Makanan ini sangat cocok menjadi sarapan.

2. Wisata kampung
     Di Pamekasan, ada beberapa daerah yang penduduknya menjadi pengusaha batik, kripik tette, dan krupuk tangguk. apa dua nama makanan terakhir? Dua nama terakhir adalah cemilan khas pamekasan. hanya ada di Pamekasan, bahkan produksinya hanya di desa tertentu. Nah, karena proses produksi yang unik, maka alangkah baiknya jika kampung yang warganya memiliki usaha tersebut dikembangkan untuk mejadi tujuan wisata. Berikut penjelasan dari poin-poin tersebut:
a. Wisata batik
     Meskipun tidak seterkenal Pekalongan di jawa tengah, Pamekasan adalah sentra produsen batik yang patut diperhitungkan. Motif batik pamekasan memiliki kekhasan tersendiri, dan jika hal ini bisa dikenalkan mulai dari cara membuat hingga sejarahnya, maka Pamekasan dapat mengenalkan produk sekaligus sejarah daerahnya.
Ibu pembuat batik
b. Kripik tette
    Nama cemilan ini diambil dari cara membuatnya. Tette=salah satu proses pemipihan. ya, bahan utama yaitu singkong, hanya dipipihkan yang dalam bahasa madura ditette, kemudia di jemur dengan wadah daun kelapa yang sudah dijalin sedemikian rupa. Kripik ini sangat cocok dinikmati dengan sambal kacang atau sambal petis, bisa juga dinikmati begitu saja jika saat proses pembuatannya sudah dilumuri dengan garam. Nah, proses pembuatan kripik ini unik. seorang pembuat kripik tette, harus betah duduk seharian untuk mendapatkan sejumlah kripik tette yang diingini. saya pernah mencoba membuat, dan duduk selama sejam membuat punggu saya sakit. Bayangkan, jika mereka para pembuat kripik memulainya sejak dini hari. Kenapa harus sepagi itu? ya, karena mereka harus mengejar matahari. karena kripik ini jika kering lebih dari sehari, akan menghasilkan kripik yang tidak bagus.kripik yang dihasilkan cenderung keras. Warna kripik bisa kuning atau putih, tergantung dari singkong yang digunakan. 
kripik tette yang berbentuk memanjang
c. Krupuk tangguk
    nama lain krupuk tangguk adalah krupuk raksasa. karena memang ukurannya yang besar untuk sebuah krupuk. krupuk ini terbuat dari sagu singkong. dan dijual dalam bentuk lembaran besar dalam kondisi sudah masak, jadi siap dimakan dengan sambal kacang atau petis. Apa tidak khawatir melempem? tenang saja, jika krupuk melempem cukup dijemur di bawah terik matahari untuk mendapatkan kembali kerenyahannya. Saya sendiri penarasan dengan cara pembuatan krupuk ini, jadi jika difasilitasi untuk bisa belajar proses pembuatannya, akan sangat menyenangkan.
Krupuk tangguk di pasar
d. Wisata Garam
     Madura dikenal sebagai Pulau Garam, tapi selama ini petani garam tidak seterkenal namanya.Salah satu produsen garam di Madura adalah Pamekasan, maka akan sangat membantu para petani dan penduduk sekitar tambak jika lahan tambak garam dijadikan tujuan wisata dari Pamekasan. Agendanya bisa dengan mengenala tentang garam, asal muasal, kegunaan, hingga proses pembuatan garam, yang selama ini hanya dipelajari melalui buku.
Suasan di tambak garam 










Kamis, 11 Juli 2013

Sastra, Kenalkan Ia Sejak Dini pada Anak



          “Ajarkan sastra pada anak-anakmu, agar anak pengecut jadi pemberani” 
(Umar bin Khattab)
          “Ajarkan anak-anakmu puisi” (Aisyah ra)
          Ada yang menarik dari beberapa drama korea bertema kerajaan yang pernah saya tonton, atau drama korea jepang dan cina yang bertema serupa. Apakah itu? Ada kesamaan yang ditampilkan dari drama bertema kerajaan adalah anak-anak mereka, selalu belajar tentang karya sastra masing-masing negeranya. Mereka, dari kecil sudah dibiasakan untuk menghafal dan memahami dari tiap karya sastra yang mereka pelajari ditiap tingkatan kelas yang mereka jalani.
          Sebut saja misalnya drama korea “Jewel in the Palace”. Sebelum Seo Jang Geum bergelut dengan buku-buku kesehatan, dia terlebih dulu melahap buku sastra yang diberikan oleh Pengawal Min Jung Ho. Dari kecilpun, Jang Geum sudah menghafal beberapa syair sastra sebelum ayahnya terbunuh dalam sebuah pertempuran. Beda lagi kisah di “Sungkyunkwan Scandal”, dimana seorang Kim Yoon Hee diajarkan tentang syair-syair sastra oleh ayahnya. Atau drama yang terbaru adalah “The Moon That Embrace The Sun”, para sarjana di drama ini adalah orang-orang yang menghafa bait-bait syair dan memahami maknanya. Dulu, ada drama dari Hongkong yang berkisah tentang kerajaan, tokoh-tokohnya dikatakan memiliki strata yang tinggi jika dia mampu menguasai bait-bait puisi yang menjadi kewajiban untuk dihafalkan.
          Jangan terburu menilai negatif terhadap tulisan saya, karena contoh yang saya ambil di awal. Jika kita meneliti kembali shirah, bukankah bangsa arab adalah bangsa yang kuat dalam hal bersyair? Hingga ada pasar yang khusus diselenggarakan untuk menjadi tempat beradu syair, yaitu pasar ukaz. Salah satu bintang di pasar ukaz tidak lain adalah umar bin khattab, yang selalu memenangkan pertandingan saat beradu syair dengan para penduduk Mekkah yang lain.
          Atau kisah dari salah seorang imam besar umat islam, yang pada usia 15 tahun beliau sudah memberikan fatwa pada umat islam dan fatwanya diakui oleh ulama pada jamannya. Ya, beliau adalah Muhammad bin Idris As Syafi’i atau lebih dikenal dengan Imam Syafi’i. Sejak masih usia belia, beliau sudah mahir dalam menghafal bait-bait sastra, hingga ada yang menegur, “kenapa tidak menghafal alqur’an saja?”
          Saya kemudian bertanya, mengapa orang-orang jaman dulu sangat kuat mengajarkan sastra pada anak-anaknya? Bukan seperti orang tua sekarang yang selalu ingin anaknya mendapat nilai tinggi dalam matematika. Apa yang menjadikan sastra begitu luar biasa?
          Dari shirah kita mengenal bangsa arab yang pandai bersyair. Umar bin Khattab yang merupakan juara di pasar Ukaz, Aisyah dengan kepandaiannya dalam sastra seperti diungkap oleh seorang shahabat :

          Urwah Ibnu Zubair berkata: Saya tidak melihat seorang pun yang lebih pandai dalam masalah ilmu fiqih, kedokteran, dan sastra selain Aisyah RA.

Pun para shahabat yang lain, selalu menyenandungkan syair ketika mereka mengungkapkan perasaan senang atau sedih. Seperti saat Bilal rindu akan Madinah.
          Dari beberapa hal yang saya temui, saya kemudian berkesimpulan bahwa ilmu yang penting didapatkan paling awal oleh seorang anak adalah sastra. Bukan matematika. Kenapa?
          Sastra tidak mensyaratkan kemampuan menulis. Jadi, anak usia dua tahun sudah bisa diajarkan tentang sastra dengan membantunya menghafal. Sedangkan matematika, harus bisa dengan menulis, yang pada usia dua tahun belum memungkin untuk dilakukan karena kemampuan motorik yang masih belum sempurna.
          Sastra, merupakan ilmu yang luar biasa. Dia halus tapi memiliki kekuatan menghancurkan yang luar biasa. Lihat saja sekarang. Bagaimana kekuatan media dengan tulisan-tulisannya? Bagaimana buku bisa mengubah pemikiran orang? Ketika seorang anak sudah terbiasa dengan bait-bait syair, dia akan memiliki banyak kosa kata, dan tinggal menunggu waktu untuk dia menuangkan dalam sebuah tulisan. Saya pernah mendengar bahwa Roma, salah satu kota yang dijanjikan Rasulullah saat perang Khandak, akan takluk di tangan orang Islam, bukan dengan jihad qita, namun dengan jihad pena.
          Dan bukankah mukjizat terbesar nabi akhir jaman adalah karya sastra paling luar biasa yang pernah ada? Nah, inilah mengapa penting untuk mengajari anak-anak sastra sebelum yang lainnya. Agar mereka menjadi halus jiwanya, dan menjadi seorang pemberani seperti yang disampaikan oleh umar bin khattab.

Rabu, 10 Juli 2013

Sudahkah Kita Mengkomunikasikannya?


Pertama ketika mengikuti kajian muslimah special di mosaic FEB Unair yang mendatangkan Asma Nadia, di sana beliau menyinggung tentang proses ini. komunikasi kita dengan orang tua kita. Tentang kriteria calon, proses, hingga konsep pernikahan yang secara islami bagaimana. Dan kedua, status dari mbak euis 
Yg punya porsi besar u/nentukan wedding itu ortu qt.So,gadis2 muslimah hrs mulai pahamkan prosesi pernikahan islami ke ortux.Krn g mudah dan g sbntr, maka mrk kudu mulai proses ini jauh2 bulan,bahkan sblm ada calon suamix. Spt aq dulu.Hehehe. Jadi pas dah ada calon dan siap meminang, g perlu gontok2an lg mslh wedding dan tradisi2ny yg aneh2 itu. Krn Udah sepaham u pake prosesi yg islami dan syar'i ˆ⌣ˆ
Hal ini merupakan suatu hal penting, karena bagi saya sendiri, kita tidak akan bisa melancarkan apa yang kita inginkan jika sebelumnya tidak ada komunikasi, terlebih-lebih dikeluarga yang masih belum terkondisikan. Tidak ada gunannya kajian tentang fiqh munakahat terkait bagaimana sebuah prosesi pernikahan yang syar’I ketika keluarga kita masih menganut adat-adat yang bertentangan dengan syari’ah. Tidak ada gunanya buku-buku pernikahan yang kita baca jika kita pada hari H, apa yang kita jalankan tidak sesuai dengan apa yang kita sudah dapatkan. Kita sudah selesai ikut kajian fiqh munakahat, sudah hatam berbagai macam buku pernikahan, sebut saja “di jalan dakwah aku menikah” karya Cahyadi Takariawan, “Bahagianya Merayakan Cinta” karya Salim A. Fillah, “saatnya untuk menikah” karangannya fauzhil adhim, atau mungkin “ku pinang engkau dengan Hamdalah”. Tidak akan banyak berdampak besar ketika apa yang sudah kita dapat tidak kita bagi dengan orang tua kita.
           
Ketika di seminar itu, saat sambil lalu mbak Asma nadia membagi tanda tangan pada buku beliau yang di beli berjudul “ Sakinah Bersamamu”, beliau berpesan untuk memberikan buku itu juga kepada ibu kita. Agar apa? agar ibu juga tahu bagaimana pernikahan yang syar’I itu.

Saya memang belum melewati masa itu, saat dimana pernikahan berjalan sesuai dengan yang saya inginkan, yang sesuai syari’at. Tapi, insyaAllah saya sudah melakukan komunikasi itu. Ketika saya bercerita bahwa saya sudah melakukannya – dan yang saya rasakan tidak sesulit yang saya duga – seorang teman yang saat itu ada dalam forum diskusi mengomentari bahwa tidak semudah itu melakukannya. Saya tetap dengan pendirian saya, bahwa melakukan komunikasi tentang kriteria calon, proses yang akan di lalui, bagaimana konsep hari H pernikahan, tidak harus dalam suasan formal. Saat-saat santai sore, atau yang sedang menjalani pendidikan dan jauh dari ortu, disela-sela pertanyaan tentang kondisi kita, bisa kita selipkan pertanyaan tentang itu.

Bagi saya sendiri, saya nilai hal itu mudah. Ada beberapa alasan mengapa saya merasa seperti ini. pertama karena, ortu saya sekarang hanya tingga ibuk, mas yang menjadi wali saya sekarang, tidak begitu ikut campur dengan apa yang sekarang dan nanti saya akan pilih. Dan ibu, memiliki kepahaman yang sama dengan saya. Kedua adalah karena, komunikasi ini saya pernah lakukan ketika saya masih SMP. Saat itu saya share tentang kriteria laki-laki yang saya idamkan, dan kesepakatan itu saya dapatkan.

Dalam komunikasi itu, tentu kita menilai media yang cocok untuk menyampaikan. Ketika saya bercerita tentang konsep walimah yang syar’I seperti apa, saya bercerita tentang pernikahan yang saya datangi – kebiasaan saya adalah selalu minta ijin jika keluar dari Surabaya, lengkap dengan tujuan – bagaimana pakaiannya, posisi tamu, makanan, dan jika saya mengetahui tentang prosesnya, saya juga bercerita bagaimana proses itu berjalan. Jika beruntung, saya sekalian memperlihatkan foto-foto agar lebih visual. Karena tidak mungkin bagi saya untuk menyediakan bahan bacaan bagi ibuk sesuai dengan saran dari mbak asma tadi, karena ibu saya hanya lulusan SD, yang kemampuan membaca beliau seperti anak SD kelas 1. Maka saya menggunakan media gambar atau foto untuk proses komunikasi itu.

Memang, akhirnya nanti saya belum mengetahui. Apakah nanti nya jika takdir itu mendatangi saya, semua akan sesuai dengan apa yang sudah saya impikan. Tapi paling tidak, saya sudah memulai mengusahakannya. Dan sejauh ini ibuk setuju dengan apa yang selama ini kami bicarakan. Dan yang mempermudah lagi bagi saya adalah terkait adat, Alhamdulillah, hal-hal itu sudah tidak dijalankan lagi oleh keluarga, terutama ibuk. Semoga seperti itu nantinya.

Lalu, bagaimana dengan kalian? Sudahkah mengkomunikasikan? Acara pernikahan memang hanya sehari. Tapi, potensi berdakwah di acara itu sangat besar. Akan banya orang-orang umum, baik teman atau kerabat kita yang akan hadir. Sebisa mungkin itu berjalan sesuai syari’at yang sudah Dia tetapkan. Semoga kita semua dalam lindunganNya. Hingga peristiwa penting itu datang menyapa kita.

Senin, 08 Juli 2013

Jodoh adalah Rahasia Allah



          Ramadhan telah tiba, otomatis akan diikuti dengan hari raya. Agenda yang paling sering digelar saat ramadhan dan bahkan dua bulan sebelumnya adalah... apalagi jika bukan pernikahan. Dan bahkan agenda pernikahan ini akan lebih ramai ketika sudah memasuki waktu antara dua hari raya.  Ehm... bagi yang masih belum berkesempatan menyebar undangan atau yang sudah pernah menyebar, maka bersiaplah ketiban undangan dari banyak pihak. Tentu saja, rasa yang diterima oleh orang yang sudah berpengalaman dengan yang masih belum pengalaman akan berbeda. Dan pertanyaan pasti tidak jauh dari...
          “Kamu kapan nyusul?”
          Jika pertanyaan ini diajukan pada orang yang masih baru lulus kuliah yang berumur 23-25 tahun, masih ok lah. Mungkin itu pertanyaan pertama yang mereka dapat. Tapi, jika yang ditanya adalah orang yang usianya 25 ke atas? Mungkin mereka sudah bosan mendengar pertanyaan itu. Tahukah kalian, pertanyaan kapan menyusul untuk menikah adalah pertanyaan yang jawabannya juga tidak diketahui oleh yang ditanya. Karena jodoh adalah rahasia Allah. Jika dalam prosentase, 90% peran Allah, sisanya adalah manusia. Terlebih jika pertanyaan ini diajukan pada seorang perempuan.
         
Kenapa?

          Ingat lirik lagu Sheila On 7 yang berjudul “Untuk Perempuan”
Tidaklah mawar hampiri kumbang
Bukanlah cinta bila kau kejar
Tenanglah tenang dia kan datang
Dan memungutmu ke hatinya yang terdalam

Ya, perempuan ibarat bunga, dan laki-laki adalah kumbang. Sunnatullah nya adalah kumbang yang akan menghampiri bunga, bukan sebaliknya. Walaupun dalam sejarah agung umat ini ibunda kita mencontohkan tentang pengajuan diri, tetap yang melakukan eksekusi adalah pihak pria. Jadi, jika saya yang ditanya kapan menikah? Saya akan menjawab: menunggu yang menjemput.
Namun, ada yang iseng berpikiran bahwa seseorang perempuan yang tidak segera menikah memiliki kriteria yang terlalu ribet. Atau ada yang berpikiran dia tidak berusaha. Ah, terlalu ingin tahu urusan orang. Ada urusan apa mereka dengan perempuan yang belum menikah? Jika tidak tahu, jangan mudah men-judge. Mereka sudah berusaha, berdo’a, tapi apa yang bisa diperbuat ketika belum ada yang menjemput?
Pun dengan laki-laki. Meskipun aku sering kali bertanya apa yang menyebabkan pria berusia diatas 25 tahun, dengan pekerjaan yang sudah mapan tidak kunjung menikah? Mereka terlalu pemilih, tidak berani, atau memang belum dipertemukan? Entah, aku tidak berani men-judge kaum laki-laki yang walaupun mereka memiliki otoritas lebih dalam menjemput jodohnya. Karena tetap saja, jika Allah belum berkehendak, seberapapun dia berusaha tidak akan dipertemukan dengan jodohnya. Seperti kisah Azam dalam film ketika cinta bertasbih.
So, berhentilah bertanya pada mereka yang belum juga dipertemukan dengan jodohnya ketika usia sudah mendekati kepala tiga atau bahkan sudah memasuki. Karena mereka pun tidak tahu kapan moment yang ditunggu hadir menyapa. Do’akan mereka, agar segera dipertemukan dengan jodoh yang sudah dipersiapkan. Itu akan lebih membantu dan tidak menyakiti saudara kita.

Minggu, 07 Juli 2013

Gaul Vs Kegemaran



          Kepikiran untuk menulis hal ini setelah di “cap” gaul oleh teman, gara-garanya saya menuliskan sebait lirik lagu dari sebuah band indonesia, kemudian saya menyebutkan judul dan ada di album apa.  Apakah dengan saya mengetahui judul lagu dan album lantas serta merta dianggap gaul?
          Cerita lain yang saya dapat pada kegiatan pagi ini. Gara-gara menggunakan jaket bertuliskan “Super Junior” ada celetukan “wih, gaul, jaketnya super junior”. Atau ketika bahasan yang diangkat adalah seputar produk seni korea, mulai dari serial drama hingga reality show yang memang banyak digemari kalangan muda tanah air, lantar sebutan gaul tersemat pada mereka.
          Sebenarnya, apa definisi dari kata gaul?
          Akhir-akhir ini banyak sekali kata yang mengalami pergeseran makna, tidak terkecuali kata gaul. Jika merujuk pada kamus besar bahasa indonesia, gaul berarti hidup berteman.  Nah, dari definisi ini, seseorang dikatakan sebagai orang gaul adalah dia bukanlah orang yang asosial. Terkait dengan orang seperti apa dia berteman, ini masalah yang lain.
          Lalu mengapa seseorang yang berpakaian mengikuti trend terbaru, mengetahui kabar terbaru dari dunia seni dari korea atau jepang, suka nongkrong di kafe atau sering bermain ke mall-mall disebut anak gaul? Apakah orang  yang menghabiskan waktunya untuk melahap buku dari berbagai disiplin ilmu, tema, atau yang sibuk menghabiskan waktunya dengan bercocok tanam, mengembangkan jenis tanaman, dikatakan tidak gaul?
          Gaul atau tidak, menurut saya hal ini adalah masalah kegemaran. Masalahnya adalah pada istilah yang sudah terlanjur melekat di masyarakat. Ketika seseorang yang sangat menyukai produk seni dari korea, baik drama, musik, atau acara pendukungnya, wajar saja jika dia akan nyambung ketika berdiskusi tentang apa drama terbaru, siapa saja personel grupband ini, apa lagu terbaru dari artis ini, dan lain sebagainya. Namun, apakah dia akan nyambung ketika ada orang yang mengajaknya berdiskusi tentang apa penemuan terbaru dalam dunia perbintangan atau ilmu sel? Belum tentu kan? Hal lain, jika dia sangat menggemari sepak bola, maka acara dan berita seputar sepak bola akan sangat dia kuasai, tapi belum tentu “ngeh” masalah politik tanah air, kecuali yang berkaitan dengan persepakbolaan tentunya.
          Jika kegemaran kita berbanding lurus dengan apa yang sedang menjadi trend, maka penyebutan sebagai anak gaul akan melekat secara tidak langsung pada kita. Namun, jika kegemaran kita adalah hal-hal yang tidak populis, yang terjadi adalah sebaliknya. Teringat salah satu scene di salah satu drama korea, palyfull kiss. Ketika Baek Seong Joo mengajari Oh Ha Ni, dia bertanya tentang rumus matematika yang sedang mereka pelajar, dan Oh Ha Ni tidak bisa menjawab. Lalu Baek seong Jo menggumam mengapa Ha Ni sangat bodoh. Karena tidak terima, Ha Ni bertanya balik;
          “ kau tahu siapa mereka?” kata Ha Ni sambil menunjuk poster Super Junior dalam formasi lengkap.
          Baek Seong Joo tentu saja tidak bisa menjawab karena selama ini dia hanya berkutat dengan buku bacaan. Lalu, Ha Ni menyebut satu persatu personel SuJu, dan Baek Seong Joo terkesima karenanya. Dan di akhir Ha Ni mengatakan.
          “aku tidak bodoh, ini hanya masalah kegemaran saja”
          Penyebutan seseorang gaul atau tidak, hampir mirip dengan dialog yang terjadi di atas. Hanya masalah kegemaran. Jika dia hanya bisa diajak berbicara tentang satu hal, bagi saya masih tidak bisa disebut gaul. Tapi, ketika seseorang sudah seperti google berjalan, barulah saya mengatakan dia sebagai anak gaul. Tidak hanya nyambung dengan hal yang sedang jadi trend, tapi juga dengan hal-hal yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.