This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 19 Mei 2013

INDONESIA SELALU MEMILIKI SISI YANG MENAKJUBKAN

Hari Sabtu, 18 Mei 2013 saya berkesempatan berkunjung ke kota paling timur Provinsi JATIM. yup,, tepatnya ke Pacitan. Kota yang merupakan asal Presiden RI sekarang, Susilo Bambang Yudhoyono. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih selama tujuh jam, menyuguhkan pemandangan yang menakjubkan, namun juga miris. Track yang berliku, karena harus melewati lereng tebing, memberikan pemandangan yang indah, namun disisi lain juga menyedihkan. Sepanjang perjalanan, kami bertemu dengan para penambang batu, ibu-ibu pemecah batu, jalanan yang tertimbun longsor, juga jembatan yang ambrol belum juga selesai perbaikannya.
Bekas longsoran tanah
Pemandangan yang indah, tidak dapat dipungkiri. Secara kami melalui perbukitan yang masih dominan hijau. Namun, warna air yang coklat susu tidak dapat menutupi bahwa ada masalah di hulu sungai, belum lagi Daerah aliran sungai yang sangat terlihat jelas pengendapan di kanan kiri sisi sungai.


Terlepas dari apa yang ditemui selama perjalanan, saya bersyukur, dapat mengetahui sisi bumi Indonesia yang lain. Mengetahui aktivitas warganya, dan mengetahui kondisi alamnya....


Selasa, 14 Mei 2013

Apa Mahar yang Ingin diminta dari Calon Suami Kelak?



           
Tiba-tiba terpikir untuk menulis tentang Mahar. Suatu hal yang harus diberikan pengantin laki-laki kepada pengantin perempuan. Dalam diskusi-diskusi ringan dengan teman-teman, selalu saja tidak mendapatkan jawaban yang pas ketika ditanya “dirimu ingin minta mahar apa ketika menikah nanti?” adanya selalu ditanya balik “anti minta mahar apa?”
            Dalam lingkungan dimana aku lahir dan tumbuh, mahar yang diminta calon istri adalah uang, seperangkat alat sholat, atau paling banter perhiasan. Dan bagiku itu suatu hal yang biasa. Sedangkan aku sendiri ingin suatu hal yang jarang diminta sebagai mahar dalam pernikahan-pernikahan yang selama ini aku temui di lingkungan rumah. Namun, ketika tinggal di Surabaya, dan menghadiri beberapa pernikahan senior, ada hal baru yang aku temui. Mahar tidak lagi “hanya” uang atau perhiasan, tapi buku. Sepaket buku.
            Mahar buku? Ada yang mengatakan berat ketika menerima mahar berupa buku, terlebih bukan buku sembarang buku, tapi kitab tafsir misalnya. Berat karena jika kita tidak memanfaatkan buku tersebut, atau minimal tidak membacanya. Memang mahar harus begitu ya? Sama halnya ketika mendapat seperangkat alat sholat plus al qur’an, akan menjadi suatu beban ketika istri tidak menggunakan mahar itu dengan sebaik-baiknya. Lalu, bagaimana jika mahar berbentuk uang? Bukankah biasanya uang tersebut hanya disimpan?
            Terserahlah, apapun alasannya. Tapi mahar buku tetaplah menarik buatku. Sebagai seorang pencinta buku, aku sangat senang ketika mendapat hadiah buku – apapun – dibandingkan mendapatkan hadiah yang lain, pun ketika memberi hadiah, sedapat mungkin aku akan memberikan hadiah buku. Akan lebih bermanfaat. Karena buku apapun itu, selama isinya tidak menyimpang, akan memberikan ilmu bagi yang membaca isinya. Namun buku sebagai mahar, ada makna lain yang aku temukan.
            Saat membaca lagi tulisan ustadzah Robi’ah al ‘adawiyah dalam buku “Diary Pengantin”, mahar yang beliau minta adalah cincin dan sepaket buku. Tapi bagiku, buku yang diminta sebagai mahar akan lebih bermakna ketika itu berasal dari koleksi sang calon suami. Kenapa? karena dari sana kita bisa mengenal lebih jauh bagaimana karakter dan pemikiran yang dimiliki suami kita. Bagaimana bisa?
            Teringat tulisan Mohammad Afifuddin, mahasiswa Pascasarjana Sosiologi FISIPOL UGM Jojakarta dalam rubrik di balik buku yang berjudul PEMIMPIN DAN BUKU SASTRA YANG MEREKA BACA, ketika Yann Martel ditanya mengapa Martel susah-susah mengirim copy an buku sastra beserta komentar singkat tentang buku itu pada seorang Perdana Mentri, jawabannya sangat brilian “karena saya ingin tahu bagaimana imajinasi PM tersebut”.
            Ya, bagaimana karakter seseorang, bagaimana dia mengambil kebijakan, bagaimana pemikirannya, bisa kita lihat apa yang menjadi bahan bacaannya. Baik fiksi maupun non fiksi. Nah, ketika yang diminta menjadi mahar adalah buku yang selama ini menjadi koleksinya, bahkan ada buku yang menjadi favoritnya yang mempengaruhi dirinya dalam berpikir dan bertindak. Dari sana, dapat dijadikan sarana untuk mengenal pasangan kita lebih jauh. Apalagi ketika menikah dengan orang yang benar-benar belum pernah kita kenal sebelumnya. Buku-buku yang dia miliki dapat kita jadikan sarana untuk mengenalnya secara lebih jauh.

Kamis, 02 Mei 2013

Ragam Kuliner Indonesi

Hari Kamis, ketika memiliki kesempatan berkunjung ke Lamongan aku mendapatkan suasana baru. Perjalanan dengan becak dari stasiun ke tempat yang dituju, aku bertemu dengan deretan ibu-ibu dengan bakul jualannya. Setelah ditanya, ternyata mereka adalah penjual Nasi Boran, nama yang masih asing di telinga. Baru kali ini aku mendengar jenis kuliner ini, apalagi didapatnya di Lamongan, kota yang sebenarnya tidak asing karena banyak teman kuliah yang berasal dari daerah ini.
Setelah menyapa ahlul bait, kami pamit untuk jalan-jalan menyusuri kota Lamongan dan berkunjunga ke alun-alunya. Tujuan utama dari jalan-jalan ini adalah menikmati nasi boran, lumayan sekalian untuk sarapan. Sesampai di alun-alun, agak bingung memutuskan untuk membeli nasi boran yang mana, maklum penjualnya berderet dengan jarak tidak terlalu jauh. Akhirnya kami memutuskan membeli di ibu penjual yang paling sepi, biar cepat. itu saja alasannya.
tidak menunggu lama, seporsi nasi boran, dengan lauk ceker dan ikan kutok, kuah kental warna merah membalut dua lauk tersebut. Jika dilihat, seperti bumbu bali, tapi setelah dirasakan, rasanya sama sekali tidak sama. Agak takut-takut pada awalnya untuk menyantapnya, maklum aku tidak suka pedas. Tapi setelah mengunyah satu sendok, tidak ada pedas sama sekali. yummy,,,, nasi boran satu porsi habis.
Dengan porsi sedang dan lauk yang tidak hanya satu, harga jual 4.000 rupiah adalah ukuran yang murah untuk satu porsi nasi boran yang lezat tersebut. ehm,, enaknya kalau tinggal di daerah, makanan serba murah.

Rabu, 01 Mei 2013

Cerpen Madre Vs Serial Baker King Kim Tak Goo


Berkunjung ke kontrakan senior akhwat, menjelajahi deretan koleksi buku yang tidak seberapa di bawah TV,, mataku tertuju pada buku tipis berwarna orange. Madre, begitu judul yang disematkan. Karya - yang entah keberapa - dari seorang Dee. Judul ini sedang ramai diperbincangkan karena baru saja Film yang diangkat dari cerita ini tayang di bioskop.
Untukku, membaca karya dari seorang Dee adalah kali ke dua setelah Perahu Kertas. Komentar terhadap karya ini, bagus, ringan, dan dapat menambah pengetahuan tentang dunia roti yang selama ini hanya aku tahu itu-itu saja. setelah membaca buku ini, aku jadi tahu kenapa roti memiliki ke khasannya sendiri. Tiap-tiap perusahaan memiliki ciri khas roti masing-masing. dan hal itu terletak di biang roti tersebut. Jadi ingat pada serial korea yang berkisah tentang perusahaan roti. di mana ada bakery yang tetap mempertahankan cara membuat roti secara tradisional untuk menjaga kekhasan dari roti tersebut.
Setelah baca buku ini, jadi penasaran untuk belajar membuat biang roti hingga menghasilkan roti yang enak. selama ini, jika ada roti enak,, mesti harganya mahal. dan yang masih dapat dirogoh kantong,, rasanya standard. masih lebih enak buatan ibuk.
Ini yang dinamakan karya fiksi berkualitas, tidak hanya indah dalam bahasa, tapi juga penuh informasi. dan inilah mengapa saya sangat menyukai karya sastra.... khususnya novel dan cerpen....

Selasa, 16 April 2013

Kegemaran Saat SMP

Kegemaran akan bacaan fiksi sebenarnya sudah sejak SD. Tapi berhubung minimnya fasilitas, kege cemaran itu menemukan salurannya ketika menginjak bangku SMP. Pernah ingin mencuri start dengan minta tolong ke Mas ku yang sudah lebih dulu mencicipi bangku di sekolah kota dengan koleksi perpustakaan yang lengkap, tapi tidak pernah kesampaian karena mas tidak pernah mau membantuku untuk meminjamkan buku-buku yang ada. Aku hanya sering mendapat cerita kalo di sekolahnya banyak sekali buku cerita yang bisa dipinjam, namun tak pernah satupun aku dibawakannya. Jadilah menunggu untuk bisa pinjam sendiri. Maka, sejak sebelum aku lulus SD, sekolah yang menjadi incaran adalah SMP 2 Pamekasan, tidak yang lain. Selain sekolah favorit, isi perpustakaa nya lah yang memotivasiku untuk bersekolah di sana.
Dan ini buku-buku yang menjadi sasaran ketika jam istirahat dan di akhir pekan :



Novel petulangan yang dipilih setelah Lima Sekawan habis dibaca... untuk tingkat serunya petualangan, masih di bawah Lima Sekawan.



Buku yang direkomendasikan oleh mas ku. Novel horor pertama yang aku  baca... seru dan penuh imajinasi. Judul pertama yang dibaca adalah potret kematian.. dan sempat lihat serialnya juga.

Novel petualangan 4 remaja+ 1 Anjing. sangat seru. apalagi setting inggris dengan budayanya, jadi bisa belajar banyak.
Novel Indonesia yang akhirnya aku baca karena adik kelas yang waktu membacanya selalu senyum sendiri,penasaran,
akhirnya ikutan baca... seru sekali ternyata

Enid Blyton, R.L Stine, dan Hilman adalah Novelis yang aku kenal jaman SMP dulu melalui karya-karya mereka. Sebenarnya ada karya lain selain buku-buku tadi, misal Hilman, dia menulis kisah tentang Vanya dan sepatu Roda, tapi aku tidak pernah tertarik untuk membacanya. Aku pikir ketiganya adalah laki-laki, hingga akhirnya ketika duduk di bangku kuliah aku baru tahu bahwa Enid Blyton adalah seorang novelis perempuan, seperti halnya J.K Rowling.
Karena novel-novel petualangan itulah,, aku sangat tertarik dengan dunia traveling dan sejenisnya...

Rabu, 10 April 2013

Karya Penulis Favorituku: Sinta Yudisia


Salah satu novelis yang menjadi favoritku adalah Sinta Yudisia, Membaca karyanya, selalu bisa mendapatkan informasi yang beragam, selain rangkaian kata yang indah dan penuh hikmah yang senantiasa ada di barisan cerita tiap karya beliau.
Mulai memiliki karya beliau sejak ada kesempatan membedah Novel ke dua dari Novel trilogi yang berkisah tentang sejarah islam di Mongol, dan dari sana berlanjut ingin memiliki karya-karya beliau yang lain. untuk karya fiksi, menurutku cukup membaca saja, tidak perlu punya. namun setelah membaca novel yang berjudul "Takhta Awan" keinginan untuk memilik seri yang pertema sangat besar. Berikut karya bu sinta yang saya sudah baca dan saya punya :


dibeli di Surabaya Islamic Book fair, di stand Mizan

Dibeli di Airlangga Islmic Book Fair

Dulu pinjam di perpustakaan  RSUD dr.Soetomo

Beli langsung ke penulisnya... :)

Beli di Toko Buku "Rumah Buku"


Buku pertama karya bu sinta yang aku punya, dapat langsung dari beliau saat kajian di FKp :)
Baca buku ini pas SMA, pinjam di Perpustakaan sekolah



Karena beliau menulis sekitar 40 buku, jadi masih banyak buku yang belum saya baca. hasil cari-cari di Goodreads, ini beberapa judul yang aku dapatkan... semoga ada kesempatan untuk memilikinya. :)






Novel kegemaran jaman SMA,, sangat remaja.

Novel kisah lika-liku kehidupan perempuan, namun sayang novelnya susah di toko buku. sepertinya harus pesan di penerbitnya langsung

Novel tentang PSK Dolly,, susah carinya di toko buku... padahal sangat direkomendasikan :(




Novel sejarah seperti ini yang paling aku suka dari karya beliau, banyak informasi yang menarik

Tidak pernah tahu novel ini sebelumnya,, sepertinya cocok dibaca untuk anak usia SMA

Novel yang paling ingin dibaca gara-gara membaca edisi ke dua nya
Membayangkan jika karya-karya beliau lengkap aku miliki,, perpustakaan yang aku impikan akan semakin seru. Karya nya cocok dibaca untuk umur remaja hingga dewasa...
Masih ada yang lain yang belum bisa akses. terlebih yang sifatnya non fiksi. Semoga ada kesempatan untuk melengkapi buku-buku tsb.

“Perpustakaan yang baik adalah ketika kau bisa merasakan aura kebijaksanaan, dari buku-buku itu, di sekujur tubuhmu dengan cara yang misterius, tanpa harus membukanya.”

― Mark Twain





Selasa, 26 Maret 2013

Buku Tere Liye yang Pernah Aku Baca

Darwis Tere Liye, penulis yang aku kenal lewat Novel "Hafalan Sholat Delisha", namun uniknya, novel ini belum pernah aku selesaikan, baru menonton filmnya. Membosankan, membuat ngantuk, dan alur lambat yang membuat ku tidak melanjutkan membaca hingga selesai. Maka ketika ada tawaran untuk membaca karya yang lain, aku berpikir ulang. Hingga Raafi  -teman dekatku- menawarkan Novel "Rembulan Tenggelam di Wajahmu", dan akhirnya aku ketagihan untuk membaca karya-karya yang lain. dan dari sana mulai ketagihan membaca karya-karya nya yang lain, hingga tak terasa sudah 10 buku dari 16 karya yang beliau buat. Berikut buku-buku tersebut.
1.                                

2. 

3. 

4. 

5. 


6.

7. 

8. 

9. 
10. 


Suka dengan gaya penceritaan Tere Liye, di karya "Serial Anak-anak Mamak" sangat cocok untuk bahan cerita ke anak-anak. sarat pelajaran tentang hidup.