This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 10 Mei 2012

Dialog antara aku dan dia


          Ternyata butuh satu hari dan penjelasan lebih detail untuk aku bisa menemui dan mengajaknya bicara. Melakukan pendekatan untuk kemudian mengajaknya mengobrol demi data yang aku butuhkan untuk mengisi form pengkajian. Seharusnya ini tidak terjadi. Ini bukan pengalaman pertamaku melakukan anamnesa, namun entah mengapa ada keraguan ketika pasien yang aku hadapai adalah pasien lama dengan kejadian berulang, khawatir tidak ada masalah keperawatan yang akan aku dapatkan. Beberapa alasan yang melatarbelakangi, karena sudah sering ditanyai, kedua karena pasien yang sudah masuk rumah sakit untuk kesekian kalinya, mereka sudah pintar tentang penyakitnya. Dan aku akan minder.
          Namun, hari kedua ini aku memberanikan diri untuk menemuinya. Dua kali tidak mendapatkan di tempat tidur, aku bertanya pada teman sekamar, eh ternyata dia ada di tempat tidur yang lain karena suatu urusan. Aku memulai dialog itu.
          “pak, saya Asih mahasiswa praktik yang mulai senin kemarin sampai jum’at praktik di sini. Dan setiap mahasiswa mendapat satu pasien kelolaan, nah pasien saya kelola bapak. Jadi, saya akan menanyakan tentang kondisi bapak, boleh ya?” gaya to the point ku masih aku berlakukan dalam hal ini.
          “ ya, mbak. Silahkan. “ jawabnya.
          Mulailah dialog itu, pertanyaan standard. Mulai asal dari mana, kapan sakit, masuk rumah sakit kapan, hingga  apa yang menyebabkan bapak mengalami reaksi ini sampai kali ketiga. Ya, dia masuk rumah sakit sudah kali ketiga. Pada reaksi ketiga. Nah, disinilah yang penting aku ketahui. Mengapa dia sampai mengalami reaksi untuk ketiga kalinya.
          “bapak sudah menikah?” pertanyaan standard lain aku ajukan.
          “sudah, tapi cerai.”
          “dan itu yang membuat bapak stress lalu mengalami reaksi hingga tiga kali?” 
          “ ya tidak, sudah tidak memikirkan itu lagi. Itu yang menjadi penyebab reaksi pertama, tapi tidak yang kedua dan ketiga.”
          “lalu?”
          Dan berceritalah dia dengan masalah yang tengah di alaminya. Aku tidak mampu bercerita di sini. Tapi, ada pelajaran dari pasien ini. bahwa, walaupun dia memiliki penyakit yang banyak orang jijik dengan dirinya, dia masih memiliki harga diri dan tidak ingin melakukan apa yang Allah telah larang. Ya, dia masih memiliki keimanan itu. aku tidak tahu harus bilang apa. aku hanya tanya apakah dia sudah bercerita dengan orang rumah sakit untuk masalah ini? karena jika tidak, reaksi akan terus berulang. Aku hanya bilang untuk tidak memikirkan itu, ya aku tahu hal itu tidak mudah, apalagi bagi orang yang memang tipe pemikir. Tapi demi kesehatannya, dia harus bisa melakukan itu.
          “susah, mbak. Saya kepikiran terus.”
          “bapak harus bisa.”
          Dia hanya tersenyum. Aku tidak ingin melanjutkannya lagi. Dia kemudia bertanya.
          “mbaknya tidak takut tertular?”
          Aku tersenyum, lalu menjawab “awalnya sebelum ke sini memang pikiran saya jelek. Pasti di sana menakutkan. Eh, ternyata waktu hari pertama, biasa saja. Apalagi setelah dapat penjelasan tentang bagaimana penularannya. Saya kan dalam kondisi sehat, jadi kemungkinan tertular kecil, lagian bapak kan sudah mendapatkan pengobatan, dan orang yang sudah berobat selama dua minggu sudah tidak dapat menulari lagi.”
          “maaf, pak. Saya bisa cek lengan bapak?” aku minta ijin untuk mengecek dan sekaligus menggunakan sarung tangan.
          “ya silahkan.
          “masih terasa, pak?”
          “tidak,”
          “sudah tidak berasa semua”
          Ya, aku hanya merasakan kulit yang menebal dan keras.
          “kita ini orang-orang “sakti”, mbak. Orang yang sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi.” Orang sebelah nyeletuk. Dan pasien depanku hanya tersenyum. Aku pun ikut tersenyum.
“makanya harus hati-hati biar tidak luka” aku mengingatkan.
          “nanti kalau sudah kembali, jangan lupa kasi penjelasan ke orang-orang, mbak ya.” Pasien di sebelah ku menyela.
          “ya pak, InsyaAllah”
          Sampai saat ini memang informasi itu tidak berimbang. Masih banyak berita yang miring tentang penderita kusta. Begitupun yang aku dapat sebelum ini. dan itulah tugasku untuk meluruskan informasi ini. apalagi pamekasan masih menjadi kota dengan kejadian kusta yang tinggi.
          Aku sudahi dialog kali ini. aku beruntung karena pasien ini kooperatif. Yang menjadi penyebab dia mengalami reaksipun aku ketahui. aku sangat bersyukur.


Senin, 07 Mei 2012

Senyum, keramahan, dan kebahagiaan mereka


            Pekan ini aku menjalankan praktik profesi di Pacet, mojokerto. Tepatnya di rumah sakit kusta sumber glagah. Ehm, apa yang terlintas dipikiran kalian ketika mendengar kata kusta? Mengerikan, menjijikkan, dan harus di jauhi?. Pasti itu yang ada. Karena itu penyakit menular, berbahaya, kutukan, atau karena guna, hal itu yang masih ada sampai saat ini. Penyakit menular, memang iya. Berbahaya hanya ketika kusta tidak diobati. 
Lesi pada Pasien dengan kusta
Salah besar ketika kusta dikatakan penyakit kutukan atau karena guna-guna. Penyakit kusta murni karena bakteri yang bernama mycobacterium leprae, yang dapat sembuh dengan pengobatan dalam jangka waktu tertentu. Pernyataan atau pendangan semacam itu wajar-wajar saja bagi orang yang tidak pernah mengetahui secara langsung bagaimana penderita kusta dengan penyakitnya. Dan hal itu juga aku alami sebelum menginjakkan kaki di RSK ini. Wah, di sana pasti mengerikan, menjijikkan, alat perlindungan diri harus maksimal. Tapi, ketika mobil yang membawa kami memasuki halaman rumah sakit....., kesan asri dan sejuk yang tertangkap.  Memasuki tiap ruangan dalam orientasi yang dilakukan, kesan awal itu tidak ada sama sekali. Pasien-pasien dengan keadaan seperti penyakit pada umumnya. Senyum mereka menyambut kami, mayoritas dari mereka terbuka akan kedatangan orang baru.
salah satu sudut lingkungan RSK
            Keramahan itu aku dapatkan saat aku dan salah seorang teman berkeliling paska orientasi resmi bersama pembimbing klinik. Menyapa satu-persatu pasien di tiap ruangan. Kedekatan yang ingin kami bangun dengan mereka. Dan mereka menyambut kami. “masih baru, ya nak?” begitu tanya mereka. Dan mengalirlah obrolan kami. Menanyakan sejak kapan mereka di sini, sejak kapan ketahuan sakit kusta, hingga mereka membuka sendiri dari mana sebelumnya mereka berasal sebelum akhirnya di rawat di rumah sakit ini. Selesai dengan ruangan yang berisi ibu-ibu, kami berpindah ke ruangan khusus bapak. Di sana kami bertemu dengan pasien yang sudah 25 tahun tinggal di sini. Kakek itu bercerita sudah tinggal di RSk sejak tahun 1987 (bahkan aku belum lahir), saat itu masih minim informasi tentang kusta, hingga kakek itu sembuh, tetap tinggal dan membantu di RSK, walaupun sudah disediakan tempat tinggal dan sawah untuk digarap. Dari sana juga muncul celetukan, “gimana mbk?. Kalo orang yang belum tahu pasti jijik, eh ternyata rumah sakitnya resik kayak ngene”. Kami hanya tersenyum, ya apa yang bapak sampaikan tidak salah, bahkan hal itu ada dalam pikiranku. Kakek menanyakan dari mana asal daerah kami, ketika saya sebut “pamekasan”. Beliau langsung menyambut dengan pernyataan yang –aslinya tidak ingin aku dengar- di pamekasan banyak kasusnya, mbak”. Aku tersenyum kecut, “ya, pak” jawabku. Disana kejadian penyakit kustanya masih tinggi”. Lanjutku. “ya, nanti kalo sudah selesai sekolahnya,, jangan lupa balik. Sampai sekarang pandangan orang tentang penyakit kusta masih negative, masih mengucilkan karena takut tertular. Padahal tidak seperti itu kalau tahu ilmunya.
sudut ruangan RSK
            “Penjelajahan” kami akhiri saat melihat perawat ruangan yang sedang melakukan perawatan luka. Kami mengikuti mereka. Melayani satu persatu pasien yang mengalami luka akibat tusukan benda tajam yang tidak mereka rasakan karena kematian saraf perifer. Kecil besar luka tergantung keparahannya. Ada juga luka paska amputasi. Saat mengikuti perawatan luka itulah aku merasakan kebahagiaan mereka. Satu dengan yang lain saling bercanda. Mengejek luka temannya. Jika masih jelek, mereka akan membanggakan luka miliknya yang sudah mulai bagus. Mereka saling memotivasi untuk melakukan perawatan tanpa bosan. Ya, mereka saling mendukung satu sama lain.
Kusta dengan luka pada kaki
Leaflet tentang kusta
            Jika tidak merasakan pengalaman langsung, aku akan tetap dengan pikiran jelekku. Tapi semua itu hilang ketika menemui mereka secara langsung. Senyum hangat saat menyambut kami, keramahan mereka, dan kebahagiaan yang mereka rasakan bersama teman-teman yang memiliki nasib yang sama. Dan tugasku sekarang adalah menginformasikan ke orang luas, bahwa kusta tidak semengerikan yang mereka pikirkan.

Selasa, 01 Mei 2012

Malam yang Memberikanku Pelajaran

Mungkin, jika aku bercerita ini aku tidak akan dapat ijin lagi untuk pulang malam dari Surabaya. Tapi, jika aku bercerita apa yang aku temukan dalam perjalananku kali ini aku ingin sekali mengalami seperti apa yang aku jalankan sekarang. Pengalaman yang tiba-tiba membuatku terdiam dan terasa sesak di dada yang kemudian butiran air mata ingin mengalir dari ujung-ujung mata.
            Malam ini (jumat/27042012) aku pulang. Bertolak dari Surabaya jam 18.00 WIB. Seperti yang lain alami, perjalanan keluar Surabaya adalah yang paling lama. Hampir satu jam dihabiskan untuk mencapai perak dari karang menjangan melalui daerah tunjungan dengan menggunakan lyn E. jadilah tiba di pelabuhan perak jam 19.15. namun bagaimana kita menikmatai saat-saat itulah yang penting. Melintasi jalan tunjungan hingga pelabuhan perak mengajakku merasakan dua kesenangan sekaligus. Menikmati suasana kota ketika malam dengan kerlipan lampu melalui bus kota. Ehm, suasana yang sangat aku sukai.
Ketika sampai di pelabuhan perak kesan sepi  yang aku temukan. Tidak ada bus seperti yang aku perkirakan. Tapi, tidak masalah. Aku harap setelah kapal yang ini, bus akan datang. Ternyata, ketika tiba di ujung kamal, ada bus mini yang bisa aku tumpangi. Karena jam pulang yang tidak biasanya, aku menunggu sebentar untuk memastikan aku bukanlah perempuan satu-satunya di angkutan ini. Setelah dapat kepastian “teman” dan tempat duduk di depan, aku beranikan diri memilih angkutan ini. Tidak langsung berangkat seperti yang dijanjikan, tapi aku tidak begitu memperdulikan. Kapal selanjutnya merapat, namun juga tidak bus yang keluar, dalam posisi ini aku beruntung bahwa pilihanku benar. Sopir mulai memanaskan mesin, yang berarti tidak akan lama lagi kendaraan ini akan berangkat. Ketika waktu menunjukkan puluk 20.40 WIB, kendaraan ini berangkat. Hanya 15 menit aku bertahan untuk tetap terjaga, yang sisanya aku pergunakan untuk tidur. Terbangun sebentar ketika melewati gunung GIGIR, dan karena maneuver sopir yang sangat berasa. Yang kemudian tertidur lagi dan baru bangun dan benar-benar sadar ketika para penumpang sudah turun semua di daerah sampang. Dan ini yang tidak aku pikirkan sebelumnya. Ok, aku punya teman dari Bangkalan, namun bagaimana ke pamekasan? Mbak yang disebalahku turun sampang, yang lain? Jadilah mulai dari daerah tanjung aku hanya bersama sopir dan kernet.
            Dan terjadilah dialog itu. Tawar menawar untuk diturunkan di mana. Aku tidak peduli. Yang penting aku turun di daerah pamekasan. Ok, disepakati. Dan saat itulah aku menemukan sesuatu yang membuatku tersekat beberapa saat.
            “eh, dek. Jelling wah”. Kata mas sopir menegurku. Aku menoleh.
ngak jiyah oreng se nyare kasap. Mereka melintasi ladang sebelah ini, lalu wilayah pemakaman, dan sebelahnya lagi baru laut” sang sopir melanjutkan tegurannya.
            “hah? Untuk apa?” aku yang kaget, karena kesadaran yang belum pulih 100% hanya mengajukan pertanyaan itu.
            “nyari kerang”
            Aku menoleh kebelakang. Tiga orang ibu-ibu yang wajahnya tidak begitu jelas aku lihat. Banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan lagi pada mas sopir ini, tapi aku tahan. Aku tidak enak dengan ibu-ibu yang ada di belakang. Aku hanya mendengarkan percakapan antara mas sopir dengan para ibu. Namun ada rasa yang aneh di dada. Aku tiba-tiba merasa sesak dan ingin menangis. Miris melihat mereka, tiga orang ibu ember kecil tempat kerang. Apa yang mereka lakukan tengah malam begini?
            “ berangkat jam berapa tadi, bu?”
            “toron maghrib” jawab salah satu dari mereka.” Depak isya’”. Lanjutnya
            “norok sapa mangkatta?”
            Percakapan yang tidak begitu aku jelas dengar. Menyebutkan nama orang yang sulit aku ingat. Tidak berapa lama kemudian tiga orang ibu itu turun. Aku menoleh apa yang mereka bawa. Tiga ember kecil, yang mereka bawa masing-masing.
            “ kerang apa yang mereka cari?” tanyaku
            “ya kerang, yang bentuknya bulat.”
            “memang harga jualnya berapa? Mahalkah hingga mereka berusaha keras untuk melakukannya?”
            “kurang tahu. Ya namanya juga usaha untuk mencari penghasilan, pasti apa saja dilakukan.” Jelasnya. Dari tempat mereka turun tadi, mereka masih harus jalan kaki ke araha timur.
            “jauh? Mereka setiap hari mencari kerang itu?
            “ya jauh. Dan itu mereka lakukan setiap hari.
            Waw, aku tidak bisa membayangkan. Pekerjaan yang dilakukan selepas maghrib dan baru tiba dirumah tengah malam lewat dengan kerang yang hanya satu ember kecil. Setiap hari. Dan aku hanya diam, menahan sesak yang tiba-tiba muncul. Suasan bus mini yang gelap cukup membantuku. Aku tatap lurus jalan raya di depanku. Sungguh, pelajaran malam ini sangat menyentuhku.
            Ah, malam selalu memberikan sebuah kejutan. Makanya aku sangat suka menikmati malam. Perjalanan malam yang saat SMA dua pekan sekali aku lakukan, selalu menemukan hal baru. Dan sekarang aku ingin mengulanginya lagi. Dan pelajaran malam ini, memberikanku sebuah pemahaman baru tentang sebuah perjuangan.

Sabtu, 03 Maret 2012

Catatan I: Lima hari pertama yang menyenangkan



                Akhirnya saat ini datang juga. Setelah selama empat hari menjalani pembekalan, senin tanggal 27 Februari 2012 akhirnya tibalah saat ini. menjalankan profesi untuk mendapatkan gelas ners dan memperdalam ilmu dan skill mahasiswa keperawatan Unair. Salah satu yang membuatku semangat untuk menjalani profesi ini adalah aku akan menemukan banyak hal yang menarik yang bisa aku tulis, dan keinginan itu benar-benar aku rancang. Kira-kira apa saja yang akan aku temui dan yang menarik untuk ditulis. Namun, selalu saja ada alasan untuk tidak menuliskannya diakhir hari, dan akhirnya standart itu aku turunkan menjadi satu pekan sekali. Ya… itung-itung sebagai resum selama di ruangan. Entah dari segi kasus, manajemen ruangan, tenaga medis, dan lain-lain.
                Pengalaman pertama aku jalani di ruang palem I atau ruang paru laki. Sesuai namanya, ruangan ini merawat semua kasus yang berkaitan dengan masalah paru-paru pada pasien laki-laki. – ini yang aku suka dari RS. Dr Sutomo, kamar pasien sudah terpisah, walaupun penunggunya tetap laki-laki dan perempuan -. Yup, dari nama ruangan ini, kita bisa menebak apa yang ada di dalamnya. Penyakit paru dan segala permasalahannya. Jangan heran jika di ruangan ini banyak menemukan pasien dengan selang oksigen (O2 nasal), atau terpasang drainage water seal (selang yang dihubungkan kedalam rongga pleura untuk mengeluarkan udara atau cairan yang menumpuk di cavun pleura). Dan disinilah aku menjalani lima hari pertamaku di RS. Sutomo bersama lima orang lain dari angkatan B13. Karena ini resume, maka aku akan mengelompokkannya.
1. kelompok yang menyenangkan
                Awalnya aku sedikit merasa tidak nyaman, kenapa kami berempat yang berasal dan angkatan A tidak dijadikan satu saja? Namun, setelah beberapa jam bertemu, kami sudah mulai akrab. Bu diah yang merupakan perawat Ruang Observasi Intensis IRD lt.3 RS Sutomo, secara otomatis di kenal oleh banyak perawat di ruangan, Pak junaid yang merupaka kepala OK RS di Bontang, Kak Yanti perawat bedah dari RS. Di NTT, dan dua mahasiswa yang baru lulus D3, mbak sindhi dan Mas Arto (secara angkatan masih senior mereka ^_^). Banyak enaknya satu kelompok dengan mereka. Aku yang tidak begitu terampil bisa belajar dari bu diah dan pak junaid. Masih bisa nyambung dengan mbak sindhi dan mas Arto, dan kak yanti dengan logatnya yang – khas orang timur-. Aku menikmati masa-masa lima hari di awal ini. saling melengkapi satu sama lain. Kekhawatiran di awal tidak terbukti sama sekali. Dan selain itu, dari bu diah aku belajar bagaimana membagi waktu antara pekerjaan dan urusan rumah. Dari beliau aku banyak mendapat cerita. Ketika mengeluh kecapekan, maka aku akan diingatkan tentang tanggungan ku yang hanya kuliah, tidak keluarga seperti beliau. Belajar bagaimana membagi tugas dengan suami dan berinteraksi dengan anak dengan jadwal kita sebagai perawat. Dan sempat terlontar pernyataan “bisa-bisa pandanganku akan berubah setelah satu tahun”.
2. Bukan salah RS
                Beberapa bulan yang lalu, kira-kira bulan November 2011 sebuah Koran nasional memberitakan tentang orang miskin yang tidak akan diterima berobat di Sutomo. Beritanya sangat provokativ, jika hanya membaca judul, maka orang akan mengira yang salah adalah pihak rumah sakit yang tidak memiliki “hati nurani”. Sebagai orang yang pernah ada di dalamnya –walaupun hanya sebagai mahasiswa praktik - , aku tidak lantas mempercayai berita itu. Apa lagi saat ini, pasien yang dirawat di ruang paru, dengan masa rawat yang lama, - minimal 7 hari – 90% pasiennya adalah pasien jamkesmas. Dan sering kali mengalami ekstra bed, karena prinsip RS Sutomo – yang aku dapat dari pembekalan – adalah tidak menolak pasien. Dan aku melihat sendiri. Hari kedua, ekstra bed terjadi. Yang miris adalah, hal tersebut terjadi di ruang khusus TB. Ah, ternyata masih ada saja penderita TB di negeri ini. ancaman kesakitan ganda benar-benar sudah di depan mata.
                Melihat fakta ini, aku lebih percaya apa yang sudah dilakukan RS untuk masyarakat dari pada pemberitaan yang sering kali membawa kepentingan tertentu. Karena fakta ini pula aku kadang tidak mempercayai bahwa dirawat di RS sutomo susah. Bukan, tapi memang prosedur untuk pasien kuota ribet. Mesti mengurus ini itu. Dan pasien yang ditangani banyak, se indonesia bagian timur. Maka, jika pelayanannya lama, itu adalah efek dari banyaknya pasien yang harus diurus.
3. suasana RS yang menyenangkan
                Kondisi sekarang berbeda dengan dahulu. Banyak perbaikan disana disini. Kebersihan benar-benar diperhatikan, kecuali memang saat ini sedang mengalami pemasangan ubin yang membuat suasana bising. Namun selebihnya sudah standard. Setelah mencuci tangan kalau dahulu pakai handuk, sekarang sudah ganti tisu – yang dulu yang aku temukan di VK dan ROI - . selain suasan ruangan, tenaga medis di palem I juga menyenangkan. Mereka ramah-ramah. Aku banyak belajar dari mereka. Ah, yang jelas suasana ruangan di Palem I hampir sesuai teori. Walaupun terkadang aku anggap terlalu boros. Tapi hal itu dilakukan untuk mencegah penularan penyakit.
4. Subhanallah… luar biasa ibuk ini
                Saat orientasi pada hari jum’at, kami sudah di bagi kasus untuk dibahas. Aku sendiri  mendapat pasien dengan efusi pleura dan haemoragis. Karena otak yang sudah lama tidak terasah, aku tidak menganggap serius kasus ini. aku pikir sama seperti yang lain-lain. Tapi ternyata, efusi dengan pendarahan adalah salah satu tanda terjadi malignansi paru. Ah, benar saja. Ketika aku coba untuk auskultasi, paru kanan tidak terdengar suara nafas sama sekali. Setelah membuat laporan pendahuluan, aku tahu penyakit bapak ini serius. Maka, ketika aku ditanya “parah tidak, bu? Karena yang lainkan cairannya jernih, lha kok suami saya ada darahnya?’ maka aku tidak mampu untuk menjawab yang sebenarnya. Secara hasil dari dokter belum keluar, maka aku hanya bisa mengatakan tergantung dari penyebab penyakit yang mengakibatkan keluar darah. Dan parah atau tidak tergantung hasil dari lab. Itu yang mampu aku sampaikan.
                Keesokan harinya, ketika aku berpapasan dengan istri pasien ku, ibu itu bilang dengan sangat tenang :”suami saya kena kanker katanya” dia memulai pembicaraan. “lalu?” aku yang kaget tiba-tiba di todong pernyataan seperti itu hanya keluar pertanyaan tolol itu. “ya, katanya kanker” ibuk itu mempertegas. “oh, lalu ibuk?” aku yang masih dengan kekagetan melihat ekspresi tenang itu. “bagaimana lagi, Sus. Katanya kanker. Kan kemarin suster tanya, suami saya sakit apa? tadi dokternya bilang kena kanker. Kira-kira kenapa ya? Padahal suami saya tidak aneh-aneh”. Sebagai seorang perawat, aku mencoba menjelaskan dengan cara sederhana yang tidak akan membuat susah ibu itu dan dia mengerti. Namun, hari berikutnya aku melihat matanya memerah. Berbagai pemeriksaan yang mula dijalankan suaminya membuat dia tidak tega melihat semuanya. Dan saat aku pamit pulang itulah aku tahu penyebabnya. Dia tidak ingin suaminya tahu tentang sakit yang sudah diderita. Kanker paru stadium IV yang sudah bermetastase pada tulang. Sederhana permintaan ibu itu, mereka bisa pulang. Jika memang akan dilakukan tindakan lagi, mereka bersedia kembali. Heran sekaligus kagum dengan ibu itu. Bertahan untuk tidak memberitahukan suami tentang penyakit yang dideritanya.
                Lima hari yang berkesan, dalam lima hari itu aku mendapatkan “kenang-kenangan” berupa titik darah di lengan baju dan di saku jas lab. Ditambah cipratan genangan air pada rok akibat jalan kaki ketika baru selesai hujan. Ya, lima hari pertama dengan segudang pelajaran yang tidak bisa aku tulis semua.
                 

Membuka Pintu untuk Cinta



                “Aku sudah menunggumu selama empat tahun, menantimu hadir dalam hatiku untuk membantuku bergerak menjalankan apa yang sudah aku pilih. Namun, dirimu tak kunjung hadir hingga saat dimana aku sudah melewati lebih dari separuh perjalanan ini. dan aku menjalaninya tanpa dirimu, berat. Tapi aku mencoba mencari cara lain. Jika memang aku belum bisa menjalaninya karena dirimu, cinta, maka aku akan melakukannya demi cinta ku pada orang-orang yang aku cintai”.
                Bukan, bukan aku membenci ini, membenci apa yang sudah aku pilih. Aku tak punya alasan untuk itu. Dirimu sudah aku pilih sendiri, sudah mendapatkan restu Ramah dan ibuk. Dan dalam perjalanannya, aku menemukan hal-hal menarik yang dapat mengobati kerinduanku akan apa yang sudah menjadi impianku. Namun, ketika cinta butuh syarat untuk hadir dalam perjalanan aku bersamamu, itu belum bisa aku wujudkan. Ketika cinta akan hadir dengan kondisi yang kondusif, ketika cinta butuh orang-orang yang “enak” berdasarkan versiku, aku tidak mampu untuk itu. Cinta tak bersyarat seharusnya, dan itulah mengapa cinta tidak hadir dalam perjalanan aku dan dirimu.
                Perjalanan bersamamu sangat menyenangkan. Aku bisa mendapatkan berbagai macam hal yang aku inginkan. Belajar sosiologi, ilmu kesehatan masyarakat, ilmu gizi, psikologi, komunikasi (walaupun susah aku praktikkan), hukum, etik. Semua hal itu aku senangi. Namun kenapa cinta tidak kunjung hadir? Ya, karena aku masih mensyaratkan untuk kehadiranmu, cinta. Hingga saat perenunganku menjalani tahapan terakhir ini, satu hal yang dapat aku simpulkan. “aku belum membuka pintu untuk mu, cinta”. Ya, dirimu tidak jauh dari ku. Hanya saja aku belum bisa membuka pintu untuk mu.
                Maafkan aku, ku berjanji. Perjalanan bersamamu akan aku hadirkan cinta disini. Lingkungan yang aku hadapi tiap hari akan mengadirkan cinta itu diantara kita. Aku optimis. Dari beberapa orang aku mendapatkan pelajaran. Aku tidak akan menghindarimu lagi. Aku akan terus menjalani ini bersamamu. Semua yang sempat mengalihkan duniaku juga akan aku jadikan syarat untuk bisa membuka pintu itu untuk cinta. Aku berjanji akan membuka pintu untukmu, cinta.

Jumat, 24 Februari 2012

Hari kedua Pradik : Pembekalan yang (sedikit) membosankan

                Seharunya tulisan ini muncul hari rabu kemarin, namun banyak kendala (yang seharusnya tidak menjadi alasan) yang membuat janji diri ini tidak dapat terlaksana sebagai bagaimana banyangan awal. namun, saya tetap memegang keyakinan bahwa lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Akhirnya muncullah tulisan ini.
                Setelah hari senin lalu yudisium, hari selasa ini kamu menjalani pembekalan dalam acara pra pendidikan profesi ners(pradik). Agenda hari pertama kita mendengarkan pemamaparan dari para pemegang pimpinan di masing-masing rumah sakit dan ruangan yang akan kami masuki dalam rangka mencapai kompetensi yang seharusnya kami dapatkan. Bagi saya, pembekalan yang hanya duduk mendengarkan, sangatlah membosankan. Dan lelah luar biasa. Bayangkan saja, dari jam 08.00 WIB sampai jam 16.00 WIB kami hanya mendengarkan pemamaparan dari para pemimpin itu mulai dari pimpinan RSUD Dr. Soetomo hingga RSUD H. Slamet Martodiwirjo Pamekasan. Namun, bagaimanapun membosankannya pemaparan itu, tetap ada sisi menarik yang bisa saya dapatkan.
                Pemaparan pertama dari wakil direktur rumah sakit pendidikan unair. Ternyata di rumah sakit ini kami juga akan berpraktek jika ada kompetensi yang memungkinkan untuk dicapai. Ya, wajar secara alat-alat di RSP ini canggih-canggih walaupun (yang saya ketahui) belum ada pasiennya. Pemaparan kedua dari Rumah sakit tropic dan infeksi unair. Menyengangkan mendengarkan pemamaparan dari dua dokter RS unair ini. ya, karena saya dan tiga anak A7 ini mendapatkan hal yang berbeda dengan teman kami yang tidak berpraktek di dua rumah sakit tersebut. Ditambah lagi, kami berkesempatan untuk dapat praktik di RSAL dan belajar tentang terapi hiperbarik. Selain itu, ada pemaparan dari direktur RSUD Dr. Soetomo (tentunya), RS Sumber glagah (rumah sakit khusus kusta), RS Menur (rumah sakit khusus penyakit gangguan jiwa), dan RSUD Pamekasan karena ada sebanyak 20 mahasiswa program B yang dari pamekasan.
                Bersyukur kami tidak harus ke RS Dh*rm* yang memiliki peraturan agak “aneh”. Jadi, saya pribadi sedikit lega. Ya, tapi bukan berarti saya tidak bersyukur. Hanya saja memang tidak dapat 100% tenang. Karena jika masuk ICU dan ICCU memiliki aturan sendiri walaupun tidak “menegangkan” seperti di RS DH*rm*.
                Selain dari para pemimpin rumah sakit, di hari itu juga kami dibekali dari para kepala keperawatan masing-masing ruangan yang ada di RSUD Dr. Soetomo. Banyak hal yang disampaikan. Mulai dari kondisi pasien yang di layani, jumlah tenaga, hingga kondisi ruangan yang sering kali over load. Dan dari sini saya sering mendengar “karena kami tidak boleh menolak pasien”. Suatu hal yang kontras dengan pemberitaan yang ada. Tapi bagi saya, saya lebih sepakat dengan pernyataan dari kepala bidang keperawatan karena memang seperti itulah yang saya lihat. Di beberapa ruangan seringkali pasien di rawat di selasar dengan menggunakan extra bed.
                Hari kedua ini, membosankan memang. Tapi, banyak hal yang menunggu untuk segera dihadapi dengan persiapan penuh. Karena tantangan yang menunggu sangat luar biasa. Sumber glagah dengan penyakit kustanya, tapi aku membayangkan menjalani praktik di sini adalah tempat yang sejuk dan indah. Rumah sakit menur dengan penderita gangguan jiwa, yang – berdasarkan pengalaman – menyenangkan berhadapan dengan mereka. Ya, hari kedua – walaupun belum banyak – sudah menumbuhkan benih cinta yang sudah lama tertanam dalam hatiku. Bismillah… hari ketiga sesuai yang di jadwalkan, adalah untuk ujian. Semoga bisa menjalankan dengan baik.

Rabu, 22 Februari 2012

Akhirnya saat itu datang juga


                Setelah menunda profesi selama satu semester dengan alasan belum melengkapi persyaratan yudisium, akhirnya hari itu datang juga. Kemarin (20022012) aku dan tiga orang temanku (A7) akhirnya menjalani yudisium bersama teman-teman angkatan B13. Perasaannya? Sama seperti sebelum-sebelumnya, sedikit menyebalkan karena harus menunggu beberapa waktu hingga akhirnya kami semua masuk dalam satu ruangan. Setelah di absen satu persatu, kami semua yang ada diruangan itu dinyatakan lulus dan layak untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya, yaitu profesi.
                Tanggal 21 Februari 2012, adalah hari pertama aku menggunakan seragam putih-putih dengan sedikit kombinasi batik warna biru. Pra pendidikan profesi, yang merupakan acara pertama yang harus dilaluli sebelum akhirnya menjalankan tugas sebagai ners muda. Kami diambil sumpah dan diberikan penjelasan tentang ruangan yang akan kami masuki nanti nya. dari beberapa pemaparan tersebut, satu yang menjadi harapan saya adalah apa yang disampaikan akan membuat benih cinta dalam hati saya untuk tumbuh. Karena inilah saatnya. Pembekalan yang dilakukan kemarin, memberikan motivasi pada diriku sendiri bahwa masih banyak kebutuhan pelayanan kesehatan terhadap perawat. Masih belum ada rumah sakit yang bisa memenuhi ukuran ideal sebuah rumah sakit, satu perawat satu tempat tidur alias satu pasien.
                Ya, akhirnya saat ini tiba. Setelah menjalani pradik selama empat hari, kami akan melanjutkan ke klinik yang nyata. Tentu saja, setelah lulus ujian pra klinik yang akan dilaksanakan esok hari. aku harap, aku bisa lulus. Aku sadar, butuh usaha lebih. Mengingat sudah hampir enam bulan otak ini tidak bersentuhan dengan materi keperawatan, melainkan hal lain yang seringkali mengalihkan ku dari dunia keperawatan.
                Bagaimanapun perasaanku menghadapi ini, satu hal yang membuatku semangat adalah aku akan menjalani hari-hari dimana akan selalu dipenuhi dengan kesukuran bahwa aku ada di rumah sakti bukan sebagai orang yang sakit, namun sebagai perawat orangyang sakit. Yang nantinya akan banyak hikmah yang aku dapat jika aku pintar menangkapnya.
                Mulai hari ini , apa yang aku alami selama profesi akan aku tuliskan, InsyaAllah. Karena hikmah adalah milik orang mukmin yang hilang, siapa yang menemukan dia berhak memilikinya. Dan aku ingin memiliki hikmah tersebut dengan mengikatnya melalui tulisan. Karena setiap peristiwa yang kita lalui adalah istimewa, yang menjadikannya kemudian tidak istimewa adalah cara pandang kita yang tidak membuatnya menjadi istimewa.
                Semangat belajar, bekerja, dan berkarya.